ASSURE
1. Analisa Karakteristik Pebelajar (analyze learner characteristics)
Agar pembelajaran dapat berlangsung efektif, harus ada kesesuaian antara karakteristik peserta didik dan konten (isi) bahan ajar. Ada beberapa faktor penting dari peserta didik yang harus diperhatikan dalam memilih media.
Kategori karakteristik umum, yang merupakan deskripsi umum dari peserta didik seperti:
o Usia, jender, grade level, kecerdasan intelektual, dan faktor budaya atau sosial ekonomi.
Kategori karakteristik umum ini merupakan faktor yng tidak ada kaitan dengan materi pelajaran.
Faktor ini akan membantu guru menentukan tingkat pelajaran dan dalam memilih contoh-contoh yang bermakna bagi peserta didik.
Kategori karakteristik khusus, yang berkaitan dengan materi atau bahan pelajaran, yang secara langsung mempengaruhi pemilihan media dan metode, yaitu:
o Prerequisites skills: apakah peserta didik telah memiliki pengetahuan yang dipersyaratkan untuk mengikuti pelajaran yang akan diberikan
o Target skills: apakah peserta didik telah menguasai keterampilan yang akan diberikan guru
o Study skills: apakah peserta didik memiliki kompetensi dasar seperti kemampuan bahasa, matematika, reading skills, penalaran, dan sejenisnya.
o Attitudes: apakah ada bias atau misconceptions tentang bahan ajar
2. States Objectives (Rumuskan tujuan pembelajaran)
Apa tujuan pembelajaran yang diharapkan dicapai oleh peserta didik. Tepatnya, kemampuan atau keterampilan baru apa yang diharapkan dikuasai peserta didik setelah mengikuti pelajaran.
Objectives bukanlah apa yang dilakukan oleh guru, akan tetapi apa yang harus dikuasai peserta didik. Tujuan pembelajaran yang baik harus memenuhi elemen-elemen :
Performance: tujuan pembelajaran yang baik harus menunjukkan penampilan (kinerja) yang dapat diamati. Gunakan kata-kata seperti: menambah, mengurangi, menyusun, menyebutkan, menerapkan, dll.
Conditions: tujuan pembelajharan yang baik juga mengandung kondisi tertentu mana kala hasil/kinerja akan diamati. Contoh: tanpa melihat Kamus, peserta didik dapat menerjemahkan bacaan dalam Bahasa Belanda.
Criterion: tujuan pembelajaran yang baik juga mengandung kriteria, sebagai standar kinerja atau hasil pembelajaran. Sebagai contoh adalah tentang waktu dan ketelitian, misalnya: siswa dapat menyetel platina sepeda motor dengan tepat dalam waktu 10 menit.
Klasifikasi tujuan pembelajaran: yang paling umum adalah mengikuti ‘domain’ pembelajaran, yaitu:
Cognitive learning, dari kemampuan mengingat yang sangat sederhana sampai menciptakan atau menghubung-hubungkan berbagai informasi
Affective learning, menyangkut masalah perasaan (feeling) dan emosi.
Psycomotor learning, menyangkut keterampilan otot atau keterampilan motorik.
Tingkatan dalam pembelajaran kognitif:
• Knowledge: recalling specifics, remembering, defining, recognizing, repeating
• Comprehension: translating, interpreting, paraphrazing, extrapolating
• Application: using ideas and information
• Creation: breaking down an example or system into components, combining components to form results new to student
Tingkatan dalam pembelajaran affektif: pembelajaran afektif diorganisaskan menurut tingkat internalisasi suatu sikap atau nilai oleh individu peserta didik.
• Recieving: sadar dan menaruh perhatian terhadap rangsangan (stimulus)
• Responding: secara aktif berpartisipasi atau memberikan reaksi dengan cara tertentu
• Valuing: secara sukarena menunjukkan sikap, atau ketertarikan terhadap bahan ajar
• Characterization: menunjukkan sistem nilai yang konsisten secara internal, mengembangkan ‘life style’ atas dasar sistem nilai yang dianut.
Tingkatan dalam pembelajaran psikomotor:
• Imitation: repeating action which is shown
• Manipulation: performing independently
• Precision: performing with accuracy
• Articulation: performing unconciously, efficiently, and harmonously, incorporating coordination of skills.
3. Select, Modify, or Design materials.
Menemukan bahan yang tepat biasanya menyangkut salah satu alternatif berikut ini:
Selecting available materials,
Modifikasi bahan yang telah tersedia, atau
Merancang bahan atau media baru
Namun demikian, pilihan guru biasanya juga didasarkan pada hal-hal berikut:
Karakteristik pebelajar
Jenis dari tujuan pembelajaran
Pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru
Kendala situasi pembelajaran yang dijumpai di lapangan
4. Utilize Materials
Setelah memilih, memodifikasi atau merancang media yang akan digunakan, guru harus merencanakan bagaimana media akan digunakan dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk menggunakan media tersebut.
5. Require Learner Response
Guru mengharapkan respon atau tanggapan dari peserta didik atau pebelajar mengenai apa yang ingin dipelajarinya. Peserta didik harus melatih diri segala sesuatu yang harus dikuasainya, dan guru memberikan penguatan (reinforcement) terhadap jawaban atau respon yang benar. Pertama kali peserta didik untuk menunjukkan penguasaan kompetensi yang diharapkan dikuasainya, sebaiknya bukan untk keperluan ujian. Siswa diberikan kesempatan untuk menunjukkan kinerjanya, kemudian memperoleh balikan (feedback) dari guru sebelum kinerjanya dinilai.
6. Evaluate
Komponen terakhir adalah evaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui prestasi peserta didik. Namun sesungguhnya tujuan yang benar adalah untuk menilai seluruh proses pembelajaran, mencakup prestasi siswa, media yang digunakan, metode atau pendekatan pembelajaran, bahkan efektivitas gurunya.
Sampai di sini kals B
Visual Literacy
Yang dimaksud dengan visual literacy adalah kemampuan yang dipelajari untuk menafsirkan (menginterpretasikan) pesan-pesan visual secara akurat, dan untuk menciptakan pesan-pesan semacam itu.
Pertimbangan dalam rancangan visual
Ketika merancang media visual, beberapa pertimbangan berikut ini perlu diperhatikan:
1. Arrangement:elemen-elemen verbal dan visual dari tampilan (gambar) harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat menagkap perhatian pemirsanya (audience) dan mengarahkan pada rincian-rincian yang relevan.
2. Balance: bentuk atau pola yang dipilih harus menempati ruangan (space) dari gambar tampilan yang seimbang (balance). Jika tidak seimbang tampilan akan menyebabkan pemirsanya tidak nyaman, dan perlu dihindari.
3. Color: warna dalam tampilan gambar (display) dapat berfungsi untuk (1) meningkatkan fidelitas image (kesan) dengan memberikan warna sesuai kenyataan, (2) menunjukkan persamaan dan perbedan, dan untuk menunjukkan penekanan-penekanan (emphasis), dan (3) untuk menciptakan tanggapan emosional pemirsanya (misalnya warna biru, hijau, dan violet memberikan suasana sejuk, merah dan oranye memberikan nuansa panas, dst.)
Nonprojected Visual:
Yang dimaksud dengan nonprojected visual adalah visual yang tidak perlu diproyeksikan untuk mengamati/memandangnya. Bahan jenis ini sangat banyak dijual, sehingga juga merupakan bahan media yang paling banyak digunakan. Yang termasuk dalam kategori nonprojected visual ini, yaitu still picture, graphics, dan model dan relia.
Still picture adalah photographic atau photographic-like yang menjadi visualisasi dari orang, tempat, atau sesuatu benda. Yang banyak digunakan untuk media pembelajaran antara lain photo, ilustrasi dari buku-buku, katalog, periodicals, dll.
Keunggulan penggunaan bahan ini antara lain:
• Dapat menerjemahkan ide abstrak menjadi lebih konkrit (lihat Dale’s Cone)
• Banyak tersedia dalam buku-buku, majalah, surat kabar, katalog, dll.
• Penggunaannya lebih mudah karena tidak memerlukan peralatan lain.
• Dapat digunakan pada berbagai tingkatan kelas dan untuk berbagai disiplin (mata pelajaran)
Kelemahannya:
• Banyak bahan photo yang terlalu kecil untuk mengajar kelompok
• Photo hanya merupakan gambar dua dimensi. Jika diperlukan pandangan dari beberapa sudut pandang diperlukan banyak photo berurutan
• Todak dapat menunjukkan gerakan )motion)
Graphic adalah bukan photo, dua dimensi yang dipersiapkan secara khusus untuk menyampaikan pesan kepada pemirsanya. Sering juga ada suara dan simbol-simbol. Yang termasuk jenis graphik yang digunakan di kelas untuk mengajar antara lain drawings (termasuk sketches dan diagram), charts, graphs, posters dan cartoon.
• Drawings, sketches dan diagram merupakan pengaturan garis-garis untuk menampilkan orang, tempat, benda, dan konsep. Secara umum drawings merupakan gambar yang lebih sempurna (gambar selesai) dibandingkan sketch, sedangkan sketch umumnya tidak memiliki elemen detil. Sedangkan diagram pada umumnya digunakan untuk menunjukkan hubungan atau untuk membantu menerangkan proses
• Charts atau bagan, hanya memiliki satu konsep dalam satu bagan. Jika guru membuat sendiri bagan atau chart, sebaiknya bagan yang dibuat juga memuat informasi verbal dan visual sekalipun minimum yang sangat diperlukan untuk menjelaskan. Moto pembuatan crhart adalah ‘keep it simple’. Contoh chart: organization charts, classification chart, tabular chart, flowchart, dll.
• Graphs atau grafik merupakan representasi data numerik. Grafik juga dapat menunjukkan hubungan antara unit data dengan kecenderungan dalam data tersebut. Jenis-jenis grafik adalah ‘bar graph, line graph, circle graph, dan pictorial graph.
• Poster adalah gambar yang menggabungkan antara garis, warna, dan kata-kata yang dimaksudkan untuk menangkap atau menarik perhatian selama mungkin untuk menyampaikan pesan singkat. Agar efektif, poster harus berwarna-warni dan dinamik (bergerak). Poster harus mengkomunikasikan pesan secara cepat.
• Cartoon mungkin merupakan format yang paling populer dan akrab digunakan. Format ini bisa diperoleh dalam surat kabar, majalah, terbitan berkala, buku, dll. kartun lebih mudah dipahami dan menarik bagi anak-anak seperti juga bagi orang dewasa.
Model dan realia
Realia adalah merupakan model yang berupa benda asli seperti coin, alat-alat, benda-benda peninggalan, tanaman, binatang, dll. format ini dapat digunakan sebagai media pembelajaran sesuai dengan jenis atau mata pelajaran yang diajarkan oleh guru.
Model adalah tampilan representasi dari benda asli tiga dimensi. Sebuah model bisa saja lebih besar, sama atau lebih kecil dari ukuran benda sesungguhnya. Model bisan memiliki detil yang lengkap, bisa juga lebih sederhana.
Format-format seperti photo, grafik, gambar, bagan (chart) atau poster dapat ditampilkan pada papan, seperti misalnya chalkboard, multipurpose board, bulletin board, dll.
Kamis, 08 Juli 2010
Selasa, 06 Juli 2010
PERKEMBANGAN KREATIVITAS
A. KREATIVITAS DAN TEORI BELAHAN OTAK
Perkembangan kreativitas sangat erat kaitannya dengan perkembangan kognitif individu karena kreativitas sesungguhnya merupakan perwujudan dari pekerjaan otak. Para pakar kreativitas, misalnya Clark (1988) dan Gowan (1989) melalui Teori Belahan Otak (Hemisphere Theory) mengatakan bahwa sesungguhnya otak manusia itu menurut fungsinya terbagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kiri (left hemisphere) dan belahan otak kanan (right hemisphere). Otak belahan kiri mengarah kepada cara berfikir konvergen (convergen thinking), sedangkan otak belahan kanan mengarah kepada cara berfikir menyebar (difergent thinking).
Berkenaan dengan teori belahan beserta fungsinya ini (Clark, 1983: 24) mengemukakan sejumlah fungsi otak sesuai dengan belahannya itu sebagaimana tertera pada table berikut ini.
Fungsi Belahan Otak Kiri dan Belahan Otak Kanan
(Clark, 1983: 24)
No. Belahan Otak Kiri
(Left Hemisphere)
1.Math, history, language
2.Verbal, limit sensory, input
3.Sequential, measurable
4.Analytic
5.Comparative
6.Relational
7.Referential
8.Linier
9.Logical
10.Digital
11.Scientific, technological
Belahan Otak Kanan
(Right Hemisphere)
1.Self , elaborates and increases variabels,
2.inventive
3.Nonverbal perception and expressiveness
4.Spatial
5.Intuitive
6.Holistic
7.Integrative
8.Nonreferential
9.Gestalt
10.Imagery ,Better at depth perception
11.facial recognition
Mystical, humanistic
B. PENGERTIAN KREATIVITAS SECARA UMUM
Kreativitas didefinisikan secara berbeda-beda oleh para pakar berdasarkan sudut pandang masing-masing. Barron (1982: 253) mendefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Guilford (1970: 236) menyatakan bahwa kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai cirri-ciri seorang kreatif. Guilford mengemukakan dua cara berpikir, yaitu cara berpikir konvergen dan divergen. Cara berpikir konvergen adalah cara-cara individu dalam memikirkan sesuatu dengan pandangan bahwa hanya ada satu jawaban yang benar. Sedangkan cara berpikir divergen adalah kemampuan individu untuk mencari berbagai alternative jawaban terhadap suatu persoalan.
Utami Munandar (1992: 47) mendefinisikan kreativitas sebagai berikut. “Kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengolaborasi suatu gagasan.” Utami Munandar (1992: 51) menekankan bahwa kreativitas sebagai keseluruhan kepribadian merupakan hasil interaksi dengan lingkungannya.
Rogers (Utami Munandar, 1992: 51) mendefinisikan kreativitas sebagai proses munculnya hasil-hasil baru ke dalam tindakan. Hasil-hasil baru itu muncul dari sifat-sifat individu yang unik yang berinteraksi dengan individu lain, pengalaman, maupun keadaan hidupnya. Demikian juga Drevdahl (Hurlock, 1978: 325) mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk memproduksi komposisi dan gagasan-gagasan baru yang dapat berwujud kreativitas imajenatif atau sintesis yang mingkin melibatkan pembentukan pola-pola baru dan kombinasi dari pengalaman masa lalu yang dihubungkan dengan yang sudah ada pada situasi sekarang.
Berdasarkan berbagai definisi kreativitas itu, Rodhes (Torrance, 1981) mengelompokkan definisi-definisa kreativitas ke dalam empat kategori, yaitu product, person, procces, dan press.
Product menekankan kreativitas dari hasil karya kreatif, baik yang sama sekali baru maupun kombinasi karya-karya lama yang menghasilkan sesuatu yang baru. Person memandang kreativitas dari segi ciri-ciri individu yang menandai kepribadian orang kreatif atau yang berhubungan dengan kreativitas. Procces menekankan bagaimana proses kreatif itu berlangsung sejak dari mulai tumbuh sampai dengan berwujudnya perilaku kreatif. Adapun press menekankan pada pentingnya faktor-faktor yang mendukung timbulnya kreativitas pada individu.
Jadi, yang dimaksud dengan kreativitas adalah cirri-ciri khas yang dimiliki oleh individu yang menandai adanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru atau kombinasi dari karya-karya yang telah ada sebelumnya, menjadi sesuatu karya baru yang dilakukan melalui interaksi dengan lingkungannya untuk menghadapi permasalahan, dan mencari alternatif pemecahannya melalui cara-cara berpikir divergen.
C. PENGERTIAN KREATIVITAS MENURUT TORRANCE
Seorang ahli yang sangat menekankan pentingnya dukungan faktor lingkungan bagi berkembangnya kreativitas adalah Torrance (1981: 47). Ia mengatakan bahwa agar potensi kreatif individu dapat diwujudkan, diperlukan kekuatan-kekuatan pendorong dari luar yang didasari oleh potensi dalam diri individu itu sendiri. Menurut Torrance (1981: 48), kreativitas itu bukan semata-mata merupakan bakat kreatif atau kemampuan kreatif yang dibawa sejak lahir, melainkan merupakan hasil dari hubungan interaktif dan dialektis antara potensi kreatif individu dengan proses belajar dan pengalaman dari lingkungannya.
Torrence (1981: 47) medefinisikan kreativitas itu sebagai proses kemampuan memahamikesenjanga-kesenjangan-kesenjangan atau hambatan-hambatan dalam hidupnya, merumuskan hipotesis-hipotesis baru, dan mengomunikasikan hasil-hasilnya, serta sedapat mungkin memodifikasi dan menguji hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan. Untuk dapat melakukan semua itu diperlukan adanya dorongan dari lingkungan yang didasari oleh potensi kreatif yang telah ada dalam dirinya. Dengan demikian, terjadi saling menunjang antara faktor lingkungan dengan potensi kreatif yang telah dimiliki sehingga dapat mempercepat berkembangnya kreativitas pada individu yang bersangkutan.
D. PENDEKATAN TERHADAP KREATIVITAS
Pendekatan dalam studi kreativitas dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pendekatan psikologis dan pendekatan sosiologis (Torrance, 1981; Dedi Supriadi, 1989). Pendekatan psikologis lebih melihat kreativitas dari segi kekuatan yang ada dalam diri individu sebagai faktor-faktor yang menentukan kreativitas. Salah satu pendekatan psikologis yang digunakan untuk menjelaskan kreativitas adalah pendekatan holistik.
Clark (1988) menggunakan pendekatan holistic untuk menjelaskan konsep kreativitas dengan berdasarkan pada fungsi-fungsi berpikir, merasa, mengindra, dan intuisi. Clark menganggap bahwa kreativitas itu mencakup sintesis dari fungsi-fungsi thinking, feeling, sensing, dan intuiting.
Thinking merupakan berpikir rasional dan dapat diukur serta dikembangkan melalui latihan-latihan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. Feeling menunjuk pada suatu tingkat kesadaran yang melibatkan segi emosional. Sensing menunjuk pada suatu keadaan ketika dengan bakat yang ada diciptakan suatu produk baru yang dapat dilihat atau didengar oleh orang lain. Intuiting menuntut adanya suatu tingkat kesadaran yang tinggi yang dihasilkan dengan cara membayangkan, berfantasi, dan melakukan terobosan ke daerah prasadr dan tak sadar.
Pendekatan sosiologis berasumsi bahwa kreativitas individu merupakan hasil dari proses interaksi sosial, di mana individu dengan segala potensi dan disposisi kepribadiannya dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat individu itu berada, yang meliputi ekonomi, politik, kebudayaan, dan peranan keluarga.
Upaya mempelajari kreativitas dengan menggunakan pendekatan sosiologis, pertama-tama dilakukan oleh Kroeber pada tahun 1914 yang kemudian dilaporkan dalam sebuah karyanya yang berjudul Configuration of Culture (Dedi Supriadi, 1989: 84). Dalam menganalisisnya, Kroeber menggunakan tiga konfigurasi, yaitu waktu, ruang, dan derajat prestasi suatu peradaban. Berdasarkan analisis yang dilakukan, Kroeber mengambil suatu kesimpulan bahwa munculnya orang-orang kreatif tinggi dalam sejarah merupakan refleksi dari pola perkembangan nilai-nilai sosial.
Penelitian yang dilakukan oleh Gray pada tahun 1958, 1961, dan 1966, kembali menekankan dominannya peranan sosial dalam perkembangan kreativitas (Dedi Supriadi, 1989: 85). Dengan focus perkembangan kebudayaan Barat, Gray menemukan bahwa faktor-faktor ekonomi, sosial, politik, dan peranan keluarga yang kondusif menentukan dinamika dan irama perkembangan kreativitas. Penelitian Naroll dan kawan-kawan (1971) yang dilakukan di India, Cina, Jepang, dan Negara-negara Islam menunjukkan bahwa ada periode-periode tertentu dalam setiap perkembangan kebudayaan yang dapat mendorong berkembangnya kreativitas secara maksimal sehingga dapat muncul orang-orang kreatif. Sebaliknya, ada juga periode-periode tertentu yang justru mengekang berkembangnya kreativitas.
Arieti (1976) mengemukakan beberapa faktor sosiologis yang kondusif bagi perkembangan kreativitas, yaitu
1. Tersedianya sarana-sarana kebudayaan,
2. Keterbukaan terhadap keragaman cara berpikir,
3. Adanya keleluasaan bagi berbagai media kebudayaan,
4. Adanya toleransi terhadap pandangan-pandangan yang divergen, dan
5. Adanya penghargaan yang memadai terhadap orang-orang yang berprestasi.
E. PERKEMBANGAN KREATIVITAS
Perkembangan kreativitas juga merupakan perkembangan proses kognitif maka kreativitas dapat ditinjau melalui proses perkembangan kognitif berdasarkan teori yang diajukan oleh Jean Piaget. Menurut Jean Piaget (McCormack, 1982) ada empat tahap perkembangan kognitif, yaitu sebagai berikut.
1. Tahap Sensori-Motoris
Tahap ini dialami pada usia 0-2 tahun. Menurut Piaget (Bybee dan Sund, 1982), pada tahap ini interaksi anak dengan lingkungannya, termasuk orang tuanya, terutama dilakukan melalui perasaan dan otot-ototnya. Dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya, termasuk juga dengan orang tuanya, anak mengembangkan kemampuannya untuk mempersepsi, melakukan sentuhan-sentuhan, melakukan berbagai gerakan, dan secara perlahan-lahan belajar mengoordinasikan tindakannya.
Mengenai kreativitasnya, menurut Piaget, pada tahap ini belum memiliki kemampuan untuk mengembangkan kreativitasnya. Sebab, pada tahap ini tindakan anak masih berupa tindakan fisik yang bersifat refleksi, pandangannya terhadap objek masih belum permanent, belum memiliki konsep ruang dan waktu, belum memiliki konsep tentang sebab-akibat, bentuk permainannya masih merupakan pengulangan refleks-refleks, belum memiliki tentang diri ruang, dan belu memiliki kemampuan berbahasa.
Piaget juga mengatakan bahwa kemampuan yang paling tinggi pada tahap ini terjadi pada umur 18-24 bulan, yaitu sudah mulai terjadi transisi dari representasi tertutup menuju representasi terbuka. Pada umur ini, anak sudah mulai dapat mereproduksikan sesuatu yang ada dalam memori dan dapat menggunakan simbol-simbol untuk merujuk kepada objek-objek yang tidak ada.
2. Tahap Praoperasional
Tahap ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Tahap ini disebut juga tahap intuisi sebab perkembangan kognitifnya memperlihatkan kecenderungan yang ditandai oleh suasana intuitif. Artinya, semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran tetapi oleh unsure perasaan, kecenderungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang-orang bermakna, dan lingkungan sekitarnya.
Pada tahap ini, menurut Jean Piaget ( Bybee dan Sund, 1982 ), anak sangat bersifat egosentris sehingga seringkali mengalami masalah dalam berinteraksi dalam lingkungannya, termasuk dengan orang tuannya. Pada akhir tahap ini, menurut Jean Piaget ( Bybee dan Sund, 1982 ), kemampuan mengembangkan kreativitas sudah mulai tumbuh karena anak sudah mulai mengembangkan memori dan telah memiliki kemampuan untuk memikirkan masa lalu dan masa yang akan datang, meskipun dalam jangka pendek. Di samping itu, anak memiliki kemampuan untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa alam di lingkunganya secara animistik dan antropomorfik. Penjelasan animistic adalah menjelaskan peristiwa-peristiwa alam dengan menggunakan perumpamaan hewan. Adapun penjelasan antropomorfik adalah menjelaskan peristiwa-peristiwa alam dengan menggunakan perumpamaan manusia.
3. Tahap Operasional Konkret
Tahap ini berlangsung antara usia 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan diri dengan relitas konkret dan berkembang rasa ingin tahunya. Menurut Jean Piaget ( Bybee dan Sund, 1982 ), interaksinya dengan lingkungan, termasuk dengan orang tua, sudah semakin berkembang dengan baik karena egosentrisnya sudah semakin berkurang.
Menurut Jean Piaget kreativitasnya juga sudah semakin berkembang. Faktor-faktor memungkinkan semakin berkembangnya kreativitas itu adalah sebagai berikut.
1. Anak sudah mulai mampu menampilkan operasi-operasi mental.
2. Anak mulai mampu berpikir logis dalam bentuk sederhana.
3. Anak mulai berkembang kemampuannya untuk memelihara identitas diri.
4. Konsep tentang ruang sudah semakin meluas.
5. Anak sudah amat menyadari akan adanya masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
6. Anak sudah mampu mengimajinasikan sesuatu, meskipun biasanya masih memerlukan bantuan ojek-objek konkret.
4. Tahap Operasional Formal
Tahap ini dialami oleh anak pada usai 11 tahun ke atas. Pada tahap ini, menurut Jean Piaget, interaksinya dengan lingkungan sudah amat luas menjangkau banyak teman sebayanya dan bahkan berusaha untuk dapat berinteraksi dengan orang dewasa. Pada tahap ini ada semacam tarik-menarik antara ingin bebas dengan ingin dilindungi.
Dilihat dari perspektif ini, perkembangan kreativitas remaja pada posisi seiring dengan tahapan operasional formal. Artinya, perkembangan kreativitasnya, menurut Jean Piaget, sedang berada pada tahap yang amat potensial bagi perkembangan kreativitas.
Beberapa faktor yang mendukung berkembangnya potensi kreativitas, antara lain sebagai berikut.
1. Remaja sudah mampu melakukan kombinasi tindakan secara proporsional berdasarkan pemikiran logis.
2. Remaja sudah mampu melakukan kombinasi objek-objek secara proporsional berdasarkan pemikiran logis.
3. Remaja sudah memiliki pemahaman tentang ruang relatif.
4. Remaja sudah memiliki pemahaman tentang waktu relatif.
5. Remaja sudah mampu melakukan pemisahan dan pengendalian variabel-variabel dalam menghadapi masalah yang kompleks.
6. Remaja sudah mampu melakukan abstraksi reflektif dan berpikir hipotesis.
7. Remaja sudah memiliki diri ideal ( ideal self ).
8. Remaja sudah menguasai bahasa abstrak.
F. TAHAP-TAHAP KREATIVITAS
Wallas (Solso, 1991) mengemukakan empat tahapan proses kreatif, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi.
1. Persiapan (Preparation)
Pada tahap ini, individu berusaha mengumpulkan informasi atau data untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, individu berusaha menjajaki berbagai kemungkinan jalan yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah itu. Namun pada tahap ini belum ada arah yang tetap meskipun sudah mampu mengeksplorasi berbagai alternatif pemecahan masalah.
2. Inkubasi (Incubation)
Pada tahap ini individu seolah-olah melepaskan diri untuk sementara waktu dari masalah yang dihadapinya,dalam pengertian tidak memikirkannya secara sadar melainkan” menghadapinya” dalam alam prasadar.
3. Iluminasi(Illumination)
Pada tahap ini individu sudah dapat timbul inspirasi atau gagasan-gagasan baru serta proses-proses psikologis ysng mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru.
4. Verifikasi(Verivication)
Pada tahap ini, gagasan yang telah muncul dievaluasi secara kritis dan konvergen serta menghadapkannya kepada realitas. Pemikiran divergen harus diikuti dengan pemikiran konvergen. Pemikiran dan sikap spontan harus diikuti oleh pemikiran selektif dan sengaja. Penerimaan secara total harus diikuti oleh kritik. Filsafat harus diikuti oleh pemikiran logis. Keberanian harus diikuti oleh sikap hati-hati. Imajinasi harus diikuti oleh pengujian terhadap realitas.
G. KARAKTERISTIK KREATIVITAS
Piers (Adam, 1976) mengemukakan bahwa karakteristik kreativitas adalah sebagai berikut.
1. Memiliki dorongan (drive) yang tinggi.
2. Memiliki keterlibatan yang tinggi.
3. Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
4. Memiliki ketekunan yang tinggi.
5. Cenderung tidak puas terhadap kemapanan.
6. Penuh percaya diri.
7. Memiliki kemandirian yang tinggi.
8. Bebas dalam mengambil keputusan.
9. Menerima diri sendiri
10. Senang humor.
11. Memiliki intuisi yang tinggi
12. Cenderung tertarik kepada hal-hal yang kompleks.
13. Toleran terhadap ambiguitas.
14. bersifat sensitif.
Utami Munandar (1992) mengemukakan ciri-ciri kreativitas, antara lain sebagai berikut.
1. Senang mencari pengalaman baru.
2. Memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit.
3. Memiliki inisiatif.
4. Memiliki ketekunan yang tinggi.
5. Cenderung kritis terhadap orang lain.
6. Berani menyatakan pendapat dan keyakinannya.
7. Selalu ingin tahu.
8. Peka atau perasa.
9. Enerjik dan ulet.
10. Menyukai tugas-tugas yang majemuk.
11. Percaya kepada diri sendiri.
12. Mempunyai rasa humor.
13. Memiliki rasa keindahan.
14. Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi.
Clark(1988) mengemukakan karakteristik kreativitas adalah sebagai berikut.
1. Memiliki kedisiplinan diri yang tinggi.
2. Memiliki kemandirian yang tinggi.
3. Cenderung sering menentang otoritas.
4. Memiliki rasa humor.
5. Mampu menentang tekanan kelompok.
6. Lebih mampu menyesuaikan diri.
7. Senang berpetualang.
8. Toleran terhadap ambiguitas.
9. Kurang toleran terhadap hal-hal yang membosankan.
10. Menyukai hal-hal yang kompleks.
11. Memiliki kemampuan berpikir divergen yang tinggi.
12. Memiliki memori dan atensi yang baik.
13. Memiliki wawasan yang luas.
14. Mampu berpikir periodik.
15. Memerlukan situasi yang mendukung.
16. Sensitif terhadap lingkungan.
17. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
18. Memiliki nilai estetik yang tinggi.
19. Lebih bebas dalam mengembangkan integrasi peran seks.
Sedangkan Torrance (1981) mengemukakan karakteristik kreativitas sebagai berikut.
1. Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
2. Tekun dan tidak mudah bosan.
3. Percaya diri dan mandiri.
4. Merasa tertantang oleh kemajukan atau kompleksitas.
5. Berani mengambil risiko.
6. Berpikir divergen.
H. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KREATIVITAS
Kreativitas tidak dapat berkembang secara otomatis, tetapi membutuhkan rangsangan dari lingkungan. Beberapa ahli mengemukakan faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan kreativitas.
Utami Munandar (1988) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi kreativitas adalah.
1. Usia;
2. Tingkat pendidikan orang tua;
3. Tersedianya fasilitas dan
4. Penggunaan waktu luang.
Clark (1983) mengategorikan faktor-faktor yang memengaruhi kreativitas dalam dua kelompok, yaitu faktor yang mendukung dan faktor yang menghambat. Faktor-faktor yang dapat mendukung perkembangan kreativitas adalah sebagai berikut.
1. Situasi yang menghadirkan ketidaklengkapan serta keterbukaan.
2. Situasi yang memungkinkan dan mendorong timbulnya pertanyaan.
3. Situasi yang dapat mendorong dalam rangka menghasilkan sesuatu.
4. situasi yang mendorong tanggung jawab dan kemandirian.
5. situasi yang menekankan inisiatif diri untuk menggali, mengamati, bertanya, merasa, mengklasifikasikan, mencatat, menerjemahkan, memperkirakan, menguji hasil perkiraan, dan mengomunikasikan.
6. Kedwibahasaan yang memungkinkan untuk pengembangan potensi kreativitas secara lebih luas karena akan memberikan pandangan dunia secara lebih bervariasi, lebih fleksibel dalam menghadapi masalah, dan mampu mengekspresikan dirinya dengan cara yang berbeda dari umumnya yang dapat muncul dari pengalaman yang dimilikinya.
7. Posisi kelahiran.
8. Perhatian dari orangtua terhadap minat anaknya, stimulasi dari lingkungan sekolahnya, dan motivasi diri.
Sedangkan faktor-faktor yang menghambat berkembangnya kreatifitas adalah sebagai berikut.
1. Adanya kebutuhan akan keberhasilan,ketidakberanian dalam menanggung risiko, atau upaya mengejar sesuatu yang belum diketahui.
2. Konformitas terhadap teman-teman kelompoknya dan tekanan sosial.
3. Kurang berani dalam melakukan eksplorasi, menggunakan imajinasi, dan penyelidikan.
4. Stereotip peranseks atau jenis kelamin.
5. Diferensiasi antara bekerja dan bermain.
6. Otoritarianisme.
7. Tidak menghargai terhadap fantasi dan khayalan.
Miller dan Gerard (Adams dan Gullota,1979) mengemukakan adanya pengaruh keluarga pada perkembangan kreativitas anak dan remaja sebagai berikut.
1. Orang tua yang memberikan rasa aman.
2. Orang tua mempunyai berbagai macam minat pada kegiatan didalam dan diluar rumah.
3. Orang tua memberikan kepercayaan dan menghargai kemampuan anaknya.
4. Orang tua memberikan otonomi dan kebebasan anak.
5. Orang tua mendorong anak melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya.
Torrance (1981) juga menekankan pentingnya dukungan dan dorongan dari lingkungan agar individu dapat berkembang kreativitasnya. Menurutnya salah satu lingkungan yang pertama dan utama yang dapat mendukung atau menghambat berkembangnya kreativitas adalah lingkungan keluarga, terutama interaksi dalam keluarga tersebut.
Torrance(1981) mengemukakan lima bentuk interaksi orang tua dengan anak atau remaja yang dapat mendorong berkembangnya kreativitas yaitu,
1. Menghormati pertanyaan-pertanyaan yang tidak lazim;
2. Menghormati gagasan-gagasan imajinatif ;
3. Menunjukkan kepada anak atau remaja bahwa gagasan yang dikemukakan itu bernilai;
4. Memberikan kesempatan kepada anak atau remaja untuk belajar atas prakarsanya sendiri dan memberikan reward kepadanya;
5. Memberikan kesempatan kepada anak atau remaja untuk belajar dan melakukan kegiatan-kegiatan tanpa suasana penilaian.
Torrance (1981) juga mengemukakan beberapa interaksi antara orang tua dan anak (remaja) yang dapat menghambat berkembangnya kreativitas, yaitu
1. Terlalu dini untuk mengeliminasi fantasi anak;
2. Membatasi rasa ingin tahu anak;
3. Terlalu menekankan peran berdasarkan perbedaan jenis kelamin (sexual roles);
4. Terlalu banyak melarang anak;
5. Terlalu menekankan kepada anak agar memiliki rasa malu;
6. Terlalu menekankan pada keterampilan verbal tertentu;
7. Sering memberikan kritik yang bersifat destruktif.
Jadi menurut Torrance(1981), interaksi antara orang tua dengan anak atau remaja yang dapat mendorong kreativitas bukanlah interaksi yang didasarkan atas situasi stimulus respons, melainkan atas dasar hubungan kehidupan sejati (a living relationship) dan saling tukar pengalaman(coexperiencing).
I. MASALAH YANG SERING TIMBUL PADA ANAK KREATIF
Anak-anak kreatif, meskipun memiliki kemampuan atau kelebihan dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya, bukan berarti selalu mulus dalam perkembangan psikologisnya. Disamping potensi kreatifnya itu jika tidak mendapatkan penanganan secara baik justru seringkali menimbulkan masalah pada dirinya. Berkenaan dengan ini. Dedi Supriadi (1994) mengemukakan sejumlah masalah yang sering timbul atau dialami oleh anak-anak kreatif, yaitu sebagai berikut.
1. Pilihan karier yang tidak realistis
Anak-anak kreatif sering kali cenderung memiliki pilihan karier yang tidak realistis, kurang populer, dan tidak lazim. Merka juga memiliki banyak alternatif dalam menentukan karier yang akan ditempuhnya dan bahkan cenderung berubah-ubah. Kondisi psikologis seperti ini jika tidak mendapatkan bimbingan secara baik dapat mengarahkan dirinya kepada pilihan karier yang kurang tepat. Akibatnya, dapat menimbulkan frustasi jika pilihannya tidak disadari oleh pemahaman yang cukup mengenai jenis karier yang akan dipilihnya.
2. Hubungan dengan guru dan teman sebaya
Anak-anak kreatif kadang-kadang mengalami hambatan. Mereka cenderung kritis, memiliki pendapatnya sendiri, berani mengemukakan ketidaksetujuannya terhadap pemikiran orang lain tidak mudah percaya, memiliki keinginan yang seringkali berbeda dengan teman-teman pada umumnya, serta tidak begitu senang untuk melekatkan diri kepada otoritas.
3. Perkembangan yang tidak selaras
Jika lingkungannya tidak dapat mengakomodasi keunggulan potensi kreatifnya itu, dapat muncul masaalah dalam diri anak-anak kretif. Masalah yang timbul disebut dengan istilah uneven development (perkembangan yang tidak selaras) antara kematangan intelektual dengan perkembangan aspek-aspek emosional dan sosialnya.
4. Tiadanya tokoh-tokoh ideal
Anak-anak kreatif cenderung memiliki tokoh-tokoh orang besar yang sangat diidealkan dalam hidupnya. Tokoh-tokoh ideal bisa berada dekat di lingkungan sekitarnya, tetapi dapt juga berada di tempat yang jauh dan sulit dijangkau. Jika tokoh idealnya berada di tempat yang jauh dan sulit dijangku. Jika tokoh idealnya berada ditempat yang jauh, anak-anak kreatif cenderung berusaha untuk dapat menjangkau melalui cara mereka sendiri. Kelangkaan tokoh ideal karena kelangkaan informasi dapat mengakibatkan anak-anak kreatif tersesat kepada pilihan tokoh ideal yang salah.
J. UPAYA MEMBANTU PERKEMBANGAN KREATIVITAS DAN IMPLIKASINYA BAGI PENDIDIKAN
Sesungguhnya anak-anak kreatif kedudukannya sama saja dengan anak-anak biasa lainnya. Namun, karena potensi kreatifnya itu, mereka sangat memerlukan perhatian khusus di sini bukan berarti mereka harus mendapatkan perlakuan istimewa, melainkan harus mendapatkan bimbingan sesuai dengan potensi kreatifnya agar tidak sia-sia. Kelemahan pendidikan selama ini dalam konteksnya dengan pengembangan potensi kreatif anak, menurut Gowan (1981),adalah kurangnya perhatian terhadap pengembangan fungsi belahan otak kanan.
Oleh karena itu, sistem pendidikan hendaknya memperhatikan kurikulum yang akan diolah menjadi materi yang dapat dikembalikan kepada fungsi-fungsi pengembangan dari kedua belahan otak manusia tersebut. Terlalu menekankan pada fungsi satu belahan otak saja menyebabkan fungsi belahan otak yang lain tidak berkembang secara maksimal.
Sifat relasi bantuan untuk membimbing anak-anak kreatif, menurut Dedi Supriadi (1994), sebenarnya sama saja dengan relasi untuk anak-anak pada umumnya. Hanya saja, idealnya para guru dan pembimbing mengetahui mekanisme proses kreatif dan manifestasi perilaku kreatif. Dalam konteks relasi dengan anak-anak kreatif ini, Torrance (1977) menamakan relasi bantuan itu dengan istilah creative relationship yang memiliki karakteristik sebagai berikut.
1. Pembimbing berusaha memahami berusaha memahami pikiran dan perasaan anak.
2. Pembimbing mendorong anak untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya tanpa mengalami hambatan.
3. Pembimbing lebih menekankan pada proses daripada hasil sehingga Pembimbing di tuntut mampu memandang permasalahan anak sebagai bagian dari keseluruhan dinamika perkembangan dirinya.
4. Pembimbing berusaha menciptakan lingkungan yang bersahabat, bebas dari ancaman, dan suasana saling menghargai.
5. Pembimbing tidak memaksakan pendapat, pandangan, atau nilai-nilai tertentu kepada anak.
6. Pembimbing berusaha mengeksplorasi segi-segi positif yang dimiliki anak dan bukan sebaliknya mencari-cari kesalahan anak.
7. Pembimbing berusaha menempatkan aspek berpikir dan perasaan secara seimbang dalam proses bimbingan.
Supriadi (1994) mengemukakan sejumlah bantuan yang dapat digunakan untuk membimbing perkembangan anak-anak kreatif, yaitu :
1. Menciptakan rasa aman kepada anak untuk mengekspresikan kreativitasnya;
2. Mengakui dan menghargai gagasan-gagasan anak;
3. Menjadi pendorong bagi anak untuk mengomunikasikan dan mewujudkan gagasan-gagasan nya;
4. Membantu anak memahami dalam berpikir dan bersikap, dan bukan malah
menghukumnya;
5. Memberikan peluang untuk mengomunikasikan gagasan-gagasannya;
6. Memberikan informasi mengenai peluang-peluang yang tersedia.
A. KREATIVITAS DAN TEORI BELAHAN OTAK
Perkembangan kreativitas sangat erat kaitannya dengan perkembangan kognitif individu karena kreativitas sesungguhnya merupakan perwujudan dari pekerjaan otak. Para pakar kreativitas, misalnya Clark (1988) dan Gowan (1989) melalui Teori Belahan Otak (Hemisphere Theory) mengatakan bahwa sesungguhnya otak manusia itu menurut fungsinya terbagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kiri (left hemisphere) dan belahan otak kanan (right hemisphere). Otak belahan kiri mengarah kepada cara berfikir konvergen (convergen thinking), sedangkan otak belahan kanan mengarah kepada cara berfikir menyebar (difergent thinking).
Berkenaan dengan teori belahan beserta fungsinya ini (Clark, 1983: 24) mengemukakan sejumlah fungsi otak sesuai dengan belahannya itu sebagaimana tertera pada table berikut ini.
Fungsi Belahan Otak Kiri dan Belahan Otak Kanan
(Clark, 1983: 24)
No. Belahan Otak Kiri
(Left Hemisphere)
1.Math, history, language
2.Verbal, limit sensory, input
3.Sequential, measurable
4.Analytic
5.Comparative
6.Relational
7.Referential
8.Linier
9.Logical
10.Digital
11.Scientific, technological
Belahan Otak Kanan
(Right Hemisphere)
1.Self , elaborates and increases variabels,
2.inventive
3.Nonverbal perception and expressiveness
4.Spatial
5.Intuitive
6.Holistic
7.Integrative
8.Nonreferential
9.Gestalt
10.Imagery ,Better at depth perception
11.facial recognition
Mystical, humanistic
B. PENGERTIAN KREATIVITAS SECARA UMUM
Kreativitas didefinisikan secara berbeda-beda oleh para pakar berdasarkan sudut pandang masing-masing. Barron (1982: 253) mendefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Guilford (1970: 236) menyatakan bahwa kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai cirri-ciri seorang kreatif. Guilford mengemukakan dua cara berpikir, yaitu cara berpikir konvergen dan divergen. Cara berpikir konvergen adalah cara-cara individu dalam memikirkan sesuatu dengan pandangan bahwa hanya ada satu jawaban yang benar. Sedangkan cara berpikir divergen adalah kemampuan individu untuk mencari berbagai alternative jawaban terhadap suatu persoalan.
Utami Munandar (1992: 47) mendefinisikan kreativitas sebagai berikut. “Kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengolaborasi suatu gagasan.” Utami Munandar (1992: 51) menekankan bahwa kreativitas sebagai keseluruhan kepribadian merupakan hasil interaksi dengan lingkungannya.
Rogers (Utami Munandar, 1992: 51) mendefinisikan kreativitas sebagai proses munculnya hasil-hasil baru ke dalam tindakan. Hasil-hasil baru itu muncul dari sifat-sifat individu yang unik yang berinteraksi dengan individu lain, pengalaman, maupun keadaan hidupnya. Demikian juga Drevdahl (Hurlock, 1978: 325) mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk memproduksi komposisi dan gagasan-gagasan baru yang dapat berwujud kreativitas imajenatif atau sintesis yang mingkin melibatkan pembentukan pola-pola baru dan kombinasi dari pengalaman masa lalu yang dihubungkan dengan yang sudah ada pada situasi sekarang.
Berdasarkan berbagai definisi kreativitas itu, Rodhes (Torrance, 1981) mengelompokkan definisi-definisa kreativitas ke dalam empat kategori, yaitu product, person, procces, dan press.
Product menekankan kreativitas dari hasil karya kreatif, baik yang sama sekali baru maupun kombinasi karya-karya lama yang menghasilkan sesuatu yang baru. Person memandang kreativitas dari segi ciri-ciri individu yang menandai kepribadian orang kreatif atau yang berhubungan dengan kreativitas. Procces menekankan bagaimana proses kreatif itu berlangsung sejak dari mulai tumbuh sampai dengan berwujudnya perilaku kreatif. Adapun press menekankan pada pentingnya faktor-faktor yang mendukung timbulnya kreativitas pada individu.
Jadi, yang dimaksud dengan kreativitas adalah cirri-ciri khas yang dimiliki oleh individu yang menandai adanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru atau kombinasi dari karya-karya yang telah ada sebelumnya, menjadi sesuatu karya baru yang dilakukan melalui interaksi dengan lingkungannya untuk menghadapi permasalahan, dan mencari alternatif pemecahannya melalui cara-cara berpikir divergen.
C. PENGERTIAN KREATIVITAS MENURUT TORRANCE
Seorang ahli yang sangat menekankan pentingnya dukungan faktor lingkungan bagi berkembangnya kreativitas adalah Torrance (1981: 47). Ia mengatakan bahwa agar potensi kreatif individu dapat diwujudkan, diperlukan kekuatan-kekuatan pendorong dari luar yang didasari oleh potensi dalam diri individu itu sendiri. Menurut Torrance (1981: 48), kreativitas itu bukan semata-mata merupakan bakat kreatif atau kemampuan kreatif yang dibawa sejak lahir, melainkan merupakan hasil dari hubungan interaktif dan dialektis antara potensi kreatif individu dengan proses belajar dan pengalaman dari lingkungannya.
Torrence (1981: 47) medefinisikan kreativitas itu sebagai proses kemampuan memahamikesenjanga-kesenjangan-kesenjangan atau hambatan-hambatan dalam hidupnya, merumuskan hipotesis-hipotesis baru, dan mengomunikasikan hasil-hasilnya, serta sedapat mungkin memodifikasi dan menguji hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan. Untuk dapat melakukan semua itu diperlukan adanya dorongan dari lingkungan yang didasari oleh potensi kreatif yang telah ada dalam dirinya. Dengan demikian, terjadi saling menunjang antara faktor lingkungan dengan potensi kreatif yang telah dimiliki sehingga dapat mempercepat berkembangnya kreativitas pada individu yang bersangkutan.
D. PENDEKATAN TERHADAP KREATIVITAS
Pendekatan dalam studi kreativitas dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pendekatan psikologis dan pendekatan sosiologis (Torrance, 1981; Dedi Supriadi, 1989). Pendekatan psikologis lebih melihat kreativitas dari segi kekuatan yang ada dalam diri individu sebagai faktor-faktor yang menentukan kreativitas. Salah satu pendekatan psikologis yang digunakan untuk menjelaskan kreativitas adalah pendekatan holistik.
Clark (1988) menggunakan pendekatan holistic untuk menjelaskan konsep kreativitas dengan berdasarkan pada fungsi-fungsi berpikir, merasa, mengindra, dan intuisi. Clark menganggap bahwa kreativitas itu mencakup sintesis dari fungsi-fungsi thinking, feeling, sensing, dan intuiting.
Thinking merupakan berpikir rasional dan dapat diukur serta dikembangkan melalui latihan-latihan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. Feeling menunjuk pada suatu tingkat kesadaran yang melibatkan segi emosional. Sensing menunjuk pada suatu keadaan ketika dengan bakat yang ada diciptakan suatu produk baru yang dapat dilihat atau didengar oleh orang lain. Intuiting menuntut adanya suatu tingkat kesadaran yang tinggi yang dihasilkan dengan cara membayangkan, berfantasi, dan melakukan terobosan ke daerah prasadr dan tak sadar.
Pendekatan sosiologis berasumsi bahwa kreativitas individu merupakan hasil dari proses interaksi sosial, di mana individu dengan segala potensi dan disposisi kepribadiannya dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat individu itu berada, yang meliputi ekonomi, politik, kebudayaan, dan peranan keluarga.
Upaya mempelajari kreativitas dengan menggunakan pendekatan sosiologis, pertama-tama dilakukan oleh Kroeber pada tahun 1914 yang kemudian dilaporkan dalam sebuah karyanya yang berjudul Configuration of Culture (Dedi Supriadi, 1989: 84). Dalam menganalisisnya, Kroeber menggunakan tiga konfigurasi, yaitu waktu, ruang, dan derajat prestasi suatu peradaban. Berdasarkan analisis yang dilakukan, Kroeber mengambil suatu kesimpulan bahwa munculnya orang-orang kreatif tinggi dalam sejarah merupakan refleksi dari pola perkembangan nilai-nilai sosial.
Penelitian yang dilakukan oleh Gray pada tahun 1958, 1961, dan 1966, kembali menekankan dominannya peranan sosial dalam perkembangan kreativitas (Dedi Supriadi, 1989: 85). Dengan focus perkembangan kebudayaan Barat, Gray menemukan bahwa faktor-faktor ekonomi, sosial, politik, dan peranan keluarga yang kondusif menentukan dinamika dan irama perkembangan kreativitas. Penelitian Naroll dan kawan-kawan (1971) yang dilakukan di India, Cina, Jepang, dan Negara-negara Islam menunjukkan bahwa ada periode-periode tertentu dalam setiap perkembangan kebudayaan yang dapat mendorong berkembangnya kreativitas secara maksimal sehingga dapat muncul orang-orang kreatif. Sebaliknya, ada juga periode-periode tertentu yang justru mengekang berkembangnya kreativitas.
Arieti (1976) mengemukakan beberapa faktor sosiologis yang kondusif bagi perkembangan kreativitas, yaitu
1. Tersedianya sarana-sarana kebudayaan,
2. Keterbukaan terhadap keragaman cara berpikir,
3. Adanya keleluasaan bagi berbagai media kebudayaan,
4. Adanya toleransi terhadap pandangan-pandangan yang divergen, dan
5. Adanya penghargaan yang memadai terhadap orang-orang yang berprestasi.
E. PERKEMBANGAN KREATIVITAS
Perkembangan kreativitas juga merupakan perkembangan proses kognitif maka kreativitas dapat ditinjau melalui proses perkembangan kognitif berdasarkan teori yang diajukan oleh Jean Piaget. Menurut Jean Piaget (McCormack, 1982) ada empat tahap perkembangan kognitif, yaitu sebagai berikut.
1. Tahap Sensori-Motoris
Tahap ini dialami pada usia 0-2 tahun. Menurut Piaget (Bybee dan Sund, 1982), pada tahap ini interaksi anak dengan lingkungannya, termasuk orang tuanya, terutama dilakukan melalui perasaan dan otot-ototnya. Dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya, termasuk juga dengan orang tuanya, anak mengembangkan kemampuannya untuk mempersepsi, melakukan sentuhan-sentuhan, melakukan berbagai gerakan, dan secara perlahan-lahan belajar mengoordinasikan tindakannya.
Mengenai kreativitasnya, menurut Piaget, pada tahap ini belum memiliki kemampuan untuk mengembangkan kreativitasnya. Sebab, pada tahap ini tindakan anak masih berupa tindakan fisik yang bersifat refleksi, pandangannya terhadap objek masih belum permanent, belum memiliki konsep ruang dan waktu, belum memiliki konsep tentang sebab-akibat, bentuk permainannya masih merupakan pengulangan refleks-refleks, belum memiliki tentang diri ruang, dan belu memiliki kemampuan berbahasa.
Piaget juga mengatakan bahwa kemampuan yang paling tinggi pada tahap ini terjadi pada umur 18-24 bulan, yaitu sudah mulai terjadi transisi dari representasi tertutup menuju representasi terbuka. Pada umur ini, anak sudah mulai dapat mereproduksikan sesuatu yang ada dalam memori dan dapat menggunakan simbol-simbol untuk merujuk kepada objek-objek yang tidak ada.
2. Tahap Praoperasional
Tahap ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Tahap ini disebut juga tahap intuisi sebab perkembangan kognitifnya memperlihatkan kecenderungan yang ditandai oleh suasana intuitif. Artinya, semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran tetapi oleh unsure perasaan, kecenderungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang-orang bermakna, dan lingkungan sekitarnya.
Pada tahap ini, menurut Jean Piaget ( Bybee dan Sund, 1982 ), anak sangat bersifat egosentris sehingga seringkali mengalami masalah dalam berinteraksi dalam lingkungannya, termasuk dengan orang tuannya. Pada akhir tahap ini, menurut Jean Piaget ( Bybee dan Sund, 1982 ), kemampuan mengembangkan kreativitas sudah mulai tumbuh karena anak sudah mulai mengembangkan memori dan telah memiliki kemampuan untuk memikirkan masa lalu dan masa yang akan datang, meskipun dalam jangka pendek. Di samping itu, anak memiliki kemampuan untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa alam di lingkunganya secara animistik dan antropomorfik. Penjelasan animistic adalah menjelaskan peristiwa-peristiwa alam dengan menggunakan perumpamaan hewan. Adapun penjelasan antropomorfik adalah menjelaskan peristiwa-peristiwa alam dengan menggunakan perumpamaan manusia.
3. Tahap Operasional Konkret
Tahap ini berlangsung antara usia 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan diri dengan relitas konkret dan berkembang rasa ingin tahunya. Menurut Jean Piaget ( Bybee dan Sund, 1982 ), interaksinya dengan lingkungan, termasuk dengan orang tua, sudah semakin berkembang dengan baik karena egosentrisnya sudah semakin berkurang.
Menurut Jean Piaget kreativitasnya juga sudah semakin berkembang. Faktor-faktor memungkinkan semakin berkembangnya kreativitas itu adalah sebagai berikut.
1. Anak sudah mulai mampu menampilkan operasi-operasi mental.
2. Anak mulai mampu berpikir logis dalam bentuk sederhana.
3. Anak mulai berkembang kemampuannya untuk memelihara identitas diri.
4. Konsep tentang ruang sudah semakin meluas.
5. Anak sudah amat menyadari akan adanya masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
6. Anak sudah mampu mengimajinasikan sesuatu, meskipun biasanya masih memerlukan bantuan ojek-objek konkret.
4. Tahap Operasional Formal
Tahap ini dialami oleh anak pada usai 11 tahun ke atas. Pada tahap ini, menurut Jean Piaget, interaksinya dengan lingkungan sudah amat luas menjangkau banyak teman sebayanya dan bahkan berusaha untuk dapat berinteraksi dengan orang dewasa. Pada tahap ini ada semacam tarik-menarik antara ingin bebas dengan ingin dilindungi.
Dilihat dari perspektif ini, perkembangan kreativitas remaja pada posisi seiring dengan tahapan operasional formal. Artinya, perkembangan kreativitasnya, menurut Jean Piaget, sedang berada pada tahap yang amat potensial bagi perkembangan kreativitas.
Beberapa faktor yang mendukung berkembangnya potensi kreativitas, antara lain sebagai berikut.
1. Remaja sudah mampu melakukan kombinasi tindakan secara proporsional berdasarkan pemikiran logis.
2. Remaja sudah mampu melakukan kombinasi objek-objek secara proporsional berdasarkan pemikiran logis.
3. Remaja sudah memiliki pemahaman tentang ruang relatif.
4. Remaja sudah memiliki pemahaman tentang waktu relatif.
5. Remaja sudah mampu melakukan pemisahan dan pengendalian variabel-variabel dalam menghadapi masalah yang kompleks.
6. Remaja sudah mampu melakukan abstraksi reflektif dan berpikir hipotesis.
7. Remaja sudah memiliki diri ideal ( ideal self ).
8. Remaja sudah menguasai bahasa abstrak.
F. TAHAP-TAHAP KREATIVITAS
Wallas (Solso, 1991) mengemukakan empat tahapan proses kreatif, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi.
1. Persiapan (Preparation)
Pada tahap ini, individu berusaha mengumpulkan informasi atau data untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, individu berusaha menjajaki berbagai kemungkinan jalan yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah itu. Namun pada tahap ini belum ada arah yang tetap meskipun sudah mampu mengeksplorasi berbagai alternatif pemecahan masalah.
2. Inkubasi (Incubation)
Pada tahap ini individu seolah-olah melepaskan diri untuk sementara waktu dari masalah yang dihadapinya,dalam pengertian tidak memikirkannya secara sadar melainkan” menghadapinya” dalam alam prasadar.
3. Iluminasi(Illumination)
Pada tahap ini individu sudah dapat timbul inspirasi atau gagasan-gagasan baru serta proses-proses psikologis ysng mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru.
4. Verifikasi(Verivication)
Pada tahap ini, gagasan yang telah muncul dievaluasi secara kritis dan konvergen serta menghadapkannya kepada realitas. Pemikiran divergen harus diikuti dengan pemikiran konvergen. Pemikiran dan sikap spontan harus diikuti oleh pemikiran selektif dan sengaja. Penerimaan secara total harus diikuti oleh kritik. Filsafat harus diikuti oleh pemikiran logis. Keberanian harus diikuti oleh sikap hati-hati. Imajinasi harus diikuti oleh pengujian terhadap realitas.
G. KARAKTERISTIK KREATIVITAS
Piers (Adam, 1976) mengemukakan bahwa karakteristik kreativitas adalah sebagai berikut.
1. Memiliki dorongan (drive) yang tinggi.
2. Memiliki keterlibatan yang tinggi.
3. Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
4. Memiliki ketekunan yang tinggi.
5. Cenderung tidak puas terhadap kemapanan.
6. Penuh percaya diri.
7. Memiliki kemandirian yang tinggi.
8. Bebas dalam mengambil keputusan.
9. Menerima diri sendiri
10. Senang humor.
11. Memiliki intuisi yang tinggi
12. Cenderung tertarik kepada hal-hal yang kompleks.
13. Toleran terhadap ambiguitas.
14. bersifat sensitif.
Utami Munandar (1992) mengemukakan ciri-ciri kreativitas, antara lain sebagai berikut.
1. Senang mencari pengalaman baru.
2. Memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit.
3. Memiliki inisiatif.
4. Memiliki ketekunan yang tinggi.
5. Cenderung kritis terhadap orang lain.
6. Berani menyatakan pendapat dan keyakinannya.
7. Selalu ingin tahu.
8. Peka atau perasa.
9. Enerjik dan ulet.
10. Menyukai tugas-tugas yang majemuk.
11. Percaya kepada diri sendiri.
12. Mempunyai rasa humor.
13. Memiliki rasa keindahan.
14. Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi.
Clark(1988) mengemukakan karakteristik kreativitas adalah sebagai berikut.
1. Memiliki kedisiplinan diri yang tinggi.
2. Memiliki kemandirian yang tinggi.
3. Cenderung sering menentang otoritas.
4. Memiliki rasa humor.
5. Mampu menentang tekanan kelompok.
6. Lebih mampu menyesuaikan diri.
7. Senang berpetualang.
8. Toleran terhadap ambiguitas.
9. Kurang toleran terhadap hal-hal yang membosankan.
10. Menyukai hal-hal yang kompleks.
11. Memiliki kemampuan berpikir divergen yang tinggi.
12. Memiliki memori dan atensi yang baik.
13. Memiliki wawasan yang luas.
14. Mampu berpikir periodik.
15. Memerlukan situasi yang mendukung.
16. Sensitif terhadap lingkungan.
17. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
18. Memiliki nilai estetik yang tinggi.
19. Lebih bebas dalam mengembangkan integrasi peran seks.
Sedangkan Torrance (1981) mengemukakan karakteristik kreativitas sebagai berikut.
1. Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
2. Tekun dan tidak mudah bosan.
3. Percaya diri dan mandiri.
4. Merasa tertantang oleh kemajukan atau kompleksitas.
5. Berani mengambil risiko.
6. Berpikir divergen.
H. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KREATIVITAS
Kreativitas tidak dapat berkembang secara otomatis, tetapi membutuhkan rangsangan dari lingkungan. Beberapa ahli mengemukakan faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan kreativitas.
Utami Munandar (1988) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi kreativitas adalah.
1. Usia;
2. Tingkat pendidikan orang tua;
3. Tersedianya fasilitas dan
4. Penggunaan waktu luang.
Clark (1983) mengategorikan faktor-faktor yang memengaruhi kreativitas dalam dua kelompok, yaitu faktor yang mendukung dan faktor yang menghambat. Faktor-faktor yang dapat mendukung perkembangan kreativitas adalah sebagai berikut.
1. Situasi yang menghadirkan ketidaklengkapan serta keterbukaan.
2. Situasi yang memungkinkan dan mendorong timbulnya pertanyaan.
3. Situasi yang dapat mendorong dalam rangka menghasilkan sesuatu.
4. situasi yang mendorong tanggung jawab dan kemandirian.
5. situasi yang menekankan inisiatif diri untuk menggali, mengamati, bertanya, merasa, mengklasifikasikan, mencatat, menerjemahkan, memperkirakan, menguji hasil perkiraan, dan mengomunikasikan.
6. Kedwibahasaan yang memungkinkan untuk pengembangan potensi kreativitas secara lebih luas karena akan memberikan pandangan dunia secara lebih bervariasi, lebih fleksibel dalam menghadapi masalah, dan mampu mengekspresikan dirinya dengan cara yang berbeda dari umumnya yang dapat muncul dari pengalaman yang dimilikinya.
7. Posisi kelahiran.
8. Perhatian dari orangtua terhadap minat anaknya, stimulasi dari lingkungan sekolahnya, dan motivasi diri.
Sedangkan faktor-faktor yang menghambat berkembangnya kreatifitas adalah sebagai berikut.
1. Adanya kebutuhan akan keberhasilan,ketidakberanian dalam menanggung risiko, atau upaya mengejar sesuatu yang belum diketahui.
2. Konformitas terhadap teman-teman kelompoknya dan tekanan sosial.
3. Kurang berani dalam melakukan eksplorasi, menggunakan imajinasi, dan penyelidikan.
4. Stereotip peranseks atau jenis kelamin.
5. Diferensiasi antara bekerja dan bermain.
6. Otoritarianisme.
7. Tidak menghargai terhadap fantasi dan khayalan.
Miller dan Gerard (Adams dan Gullota,1979) mengemukakan adanya pengaruh keluarga pada perkembangan kreativitas anak dan remaja sebagai berikut.
1. Orang tua yang memberikan rasa aman.
2. Orang tua mempunyai berbagai macam minat pada kegiatan didalam dan diluar rumah.
3. Orang tua memberikan kepercayaan dan menghargai kemampuan anaknya.
4. Orang tua memberikan otonomi dan kebebasan anak.
5. Orang tua mendorong anak melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya.
Torrance (1981) juga menekankan pentingnya dukungan dan dorongan dari lingkungan agar individu dapat berkembang kreativitasnya. Menurutnya salah satu lingkungan yang pertama dan utama yang dapat mendukung atau menghambat berkembangnya kreativitas adalah lingkungan keluarga, terutama interaksi dalam keluarga tersebut.
Torrance(1981) mengemukakan lima bentuk interaksi orang tua dengan anak atau remaja yang dapat mendorong berkembangnya kreativitas yaitu,
1. Menghormati pertanyaan-pertanyaan yang tidak lazim;
2. Menghormati gagasan-gagasan imajinatif ;
3. Menunjukkan kepada anak atau remaja bahwa gagasan yang dikemukakan itu bernilai;
4. Memberikan kesempatan kepada anak atau remaja untuk belajar atas prakarsanya sendiri dan memberikan reward kepadanya;
5. Memberikan kesempatan kepada anak atau remaja untuk belajar dan melakukan kegiatan-kegiatan tanpa suasana penilaian.
Torrance (1981) juga mengemukakan beberapa interaksi antara orang tua dan anak (remaja) yang dapat menghambat berkembangnya kreativitas, yaitu
1. Terlalu dini untuk mengeliminasi fantasi anak;
2. Membatasi rasa ingin tahu anak;
3. Terlalu menekankan peran berdasarkan perbedaan jenis kelamin (sexual roles);
4. Terlalu banyak melarang anak;
5. Terlalu menekankan kepada anak agar memiliki rasa malu;
6. Terlalu menekankan pada keterampilan verbal tertentu;
7. Sering memberikan kritik yang bersifat destruktif.
Jadi menurut Torrance(1981), interaksi antara orang tua dengan anak atau remaja yang dapat mendorong kreativitas bukanlah interaksi yang didasarkan atas situasi stimulus respons, melainkan atas dasar hubungan kehidupan sejati (a living relationship) dan saling tukar pengalaman(coexperiencing).
I. MASALAH YANG SERING TIMBUL PADA ANAK KREATIF
Anak-anak kreatif, meskipun memiliki kemampuan atau kelebihan dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya, bukan berarti selalu mulus dalam perkembangan psikologisnya. Disamping potensi kreatifnya itu jika tidak mendapatkan penanganan secara baik justru seringkali menimbulkan masalah pada dirinya. Berkenaan dengan ini. Dedi Supriadi (1994) mengemukakan sejumlah masalah yang sering timbul atau dialami oleh anak-anak kreatif, yaitu sebagai berikut.
1. Pilihan karier yang tidak realistis
Anak-anak kreatif sering kali cenderung memiliki pilihan karier yang tidak realistis, kurang populer, dan tidak lazim. Merka juga memiliki banyak alternatif dalam menentukan karier yang akan ditempuhnya dan bahkan cenderung berubah-ubah. Kondisi psikologis seperti ini jika tidak mendapatkan bimbingan secara baik dapat mengarahkan dirinya kepada pilihan karier yang kurang tepat. Akibatnya, dapat menimbulkan frustasi jika pilihannya tidak disadari oleh pemahaman yang cukup mengenai jenis karier yang akan dipilihnya.
2. Hubungan dengan guru dan teman sebaya
Anak-anak kreatif kadang-kadang mengalami hambatan. Mereka cenderung kritis, memiliki pendapatnya sendiri, berani mengemukakan ketidaksetujuannya terhadap pemikiran orang lain tidak mudah percaya, memiliki keinginan yang seringkali berbeda dengan teman-teman pada umumnya, serta tidak begitu senang untuk melekatkan diri kepada otoritas.
3. Perkembangan yang tidak selaras
Jika lingkungannya tidak dapat mengakomodasi keunggulan potensi kreatifnya itu, dapat muncul masaalah dalam diri anak-anak kretif. Masalah yang timbul disebut dengan istilah uneven development (perkembangan yang tidak selaras) antara kematangan intelektual dengan perkembangan aspek-aspek emosional dan sosialnya.
4. Tiadanya tokoh-tokoh ideal
Anak-anak kreatif cenderung memiliki tokoh-tokoh orang besar yang sangat diidealkan dalam hidupnya. Tokoh-tokoh ideal bisa berada dekat di lingkungan sekitarnya, tetapi dapt juga berada di tempat yang jauh dan sulit dijangkau. Jika tokoh idealnya berada di tempat yang jauh dan sulit dijangku. Jika tokoh idealnya berada ditempat yang jauh, anak-anak kreatif cenderung berusaha untuk dapat menjangkau melalui cara mereka sendiri. Kelangkaan tokoh ideal karena kelangkaan informasi dapat mengakibatkan anak-anak kreatif tersesat kepada pilihan tokoh ideal yang salah.
J. UPAYA MEMBANTU PERKEMBANGAN KREATIVITAS DAN IMPLIKASINYA BAGI PENDIDIKAN
Sesungguhnya anak-anak kreatif kedudukannya sama saja dengan anak-anak biasa lainnya. Namun, karena potensi kreatifnya itu, mereka sangat memerlukan perhatian khusus di sini bukan berarti mereka harus mendapatkan perlakuan istimewa, melainkan harus mendapatkan bimbingan sesuai dengan potensi kreatifnya agar tidak sia-sia. Kelemahan pendidikan selama ini dalam konteksnya dengan pengembangan potensi kreatif anak, menurut Gowan (1981),adalah kurangnya perhatian terhadap pengembangan fungsi belahan otak kanan.
Oleh karena itu, sistem pendidikan hendaknya memperhatikan kurikulum yang akan diolah menjadi materi yang dapat dikembalikan kepada fungsi-fungsi pengembangan dari kedua belahan otak manusia tersebut. Terlalu menekankan pada fungsi satu belahan otak saja menyebabkan fungsi belahan otak yang lain tidak berkembang secara maksimal.
Sifat relasi bantuan untuk membimbing anak-anak kreatif, menurut Dedi Supriadi (1994), sebenarnya sama saja dengan relasi untuk anak-anak pada umumnya. Hanya saja, idealnya para guru dan pembimbing mengetahui mekanisme proses kreatif dan manifestasi perilaku kreatif. Dalam konteks relasi dengan anak-anak kreatif ini, Torrance (1977) menamakan relasi bantuan itu dengan istilah creative relationship yang memiliki karakteristik sebagai berikut.
1. Pembimbing berusaha memahami berusaha memahami pikiran dan perasaan anak.
2. Pembimbing mendorong anak untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya tanpa mengalami hambatan.
3. Pembimbing lebih menekankan pada proses daripada hasil sehingga Pembimbing di tuntut mampu memandang permasalahan anak sebagai bagian dari keseluruhan dinamika perkembangan dirinya.
4. Pembimbing berusaha menciptakan lingkungan yang bersahabat, bebas dari ancaman, dan suasana saling menghargai.
5. Pembimbing tidak memaksakan pendapat, pandangan, atau nilai-nilai tertentu kepada anak.
6. Pembimbing berusaha mengeksplorasi segi-segi positif yang dimiliki anak dan bukan sebaliknya mencari-cari kesalahan anak.
7. Pembimbing berusaha menempatkan aspek berpikir dan perasaan secara seimbang dalam proses bimbingan.
Supriadi (1994) mengemukakan sejumlah bantuan yang dapat digunakan untuk membimbing perkembangan anak-anak kreatif, yaitu :
1. Menciptakan rasa aman kepada anak untuk mengekspresikan kreativitasnya;
2. Mengakui dan menghargai gagasan-gagasan anak;
3. Menjadi pendorong bagi anak untuk mengomunikasikan dan mewujudkan gagasan-gagasan nya;
4. Membantu anak memahami dalam berpikir dan bersikap, dan bukan malah
menghukumnya;
5. Memberikan peluang untuk mengomunikasikan gagasan-gagasannya;
6. Memberikan informasi mengenai peluang-peluang yang tersedia.
REMAJA: KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGANNYA
Istilah lain: puberteit, adolescentia, youth
Istilah puberty (Inggris) atau puberteit (Belanda) berasal dari bahasa latin pubertas yang artinya usia kedewasaan
Pubescere dan puberty sering diartikan sebagai masa tercapainya kematangan seksual ditinjau dari aspek biologis
Adolescentia berasal dari bahasa latin adulescentis yang berarti masa muda, menunjuk pada usia 12 sd 22 tahun dan mencakup seluruh perkembangan psikhis yang terjadi pada masa tersebut
Di Indonesia baik istilah pubertas maupun adolescensia dipakai dalam arti umum dengan istilah yang sama yaitu remaja
PENGERTIAN REMAJA
Remaja menurut hukum.
Dalam hubungannya dengan bidang hukum, konsep remaja dikenal kaitannya dengan Undang-undang perkawinan.
Usia minimal suatu perkawinan bagi wanita 16 tahun dan pria 19 tahun.
Waktu antara 16 dan 19 tahun sampai 22 tahun ini disejajarkan dengan pengertian remaja dalam ilmu-ilmu sosial yaitu psikologi.
2. Remaja dari sudut perkembangan fisik.
Secara anatomis, remaja dikenal sebagai tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya.
Masa pematangan fisik berjalan lebih kurang 2 tahun dan dihitung mulai menstruasi pada wanita dan sejak pria mengalami mimpi basah.
Masa 2 tahun ini dinamakan masa pubertas.
Pada masa kini, masa puber mulai sulit ditetapkan karena cepat lambatnya sangat bergantung pada faktor-faktor yang tidak mudah untuk dikendalikan.
Batasan remaja menurut WHO:
Usia remaja: 19 sd 20 th, dengan ketentuan remaja awal 10–14 th dan remaja akhir 15 -20 th.
PBB menetapkan usia pemuda (youth) : 15 – 24 th.
Di Indonesia , batasan remaja yang mendekati batasan PBB tentang pemuda adalah kurun usia 14 – 24 Tahun.
Remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan dimana:
Individu berkembang dari saat pertama kali menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.
4. Remaja ditinjau dari faktor sosial psikologis.
Ciri remaja “Perkembangan psikologis dan pada identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa”.
Puncak perkembangan jiwa ditandai dengan adanya proses perubahan dari entropy ke kondisi negentropy.
Entropy: keadaan dimana kesadaran manusia masih belum tersusun rapi artinya walau isinya sudah banyak (pengetahuan, pengalaman dst), tetapi hal tersebut belum saling terkait dengan baik sehingga belum dapat berfungsi secara maksimal.
Negentropy: keadaan dimana isi kesadaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan dan sikap.
Problematika sosial psikologis remaja:
Konflik /Friksi dialami pada remaja yang berada dalam masyarakat yang menuntut persyaratan yang berat untuk menjadi dewasa.
Misal: tuntutan mencapai pendidikan yang setinggi-tingginya.
Definisi Remaja (untuk masyarakat Indonesia)
Pedoman umum remaja di Indonesia dapat digunakan batasan usia
11 – 24 tahun. Alasannya:
Usia 11 th adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (kriteria fisik).
Usia 11 th sudah dianggap akil balik, baik menurut adat maupun agama.
Mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri (ego identity), tercapainya fase genital dari perkembangan koknitif maupun moral.
Batas usia 24 th merupakan batas maksimal, yaitu untuk memberi peluang bagi mereka yang masih menggantungkan diri pada orang tua karena masih menempuh pendidikan sehingga belum punya hak penuh sebagai orang dewasa.
e. Status perkawinan sangat menentukan. Artinya seseorang yang sudah menikah dalam usia berapapun akan dianggap dan diperlakukan seperti orang dewasa penuh baik secara hukum maupun di masyarakat.
Masa pubertas
Perubahan-perubahan masa pubertas membingungkan remaja saat mereka menjalani. Berikut ungkapan hati seorang remaja:
Aku tidak menyukai rupa seperti ini. Wajahku penuh jerawat. Rambutku kusam dan kaku. Hidungku terlalu besar, bibirku terlalu kecil. Kakiku terlalu pendek. Ada 4 tahi lalat besar diwajahku. Aku merasa malu sekali. Pokoknya tubuhku adalah sebuah bencana
Perubahan masa pubertas
Pubertas adalah periode dimana kematangan kerangka dan seksual terjadi secara pesat pada awal masa remaja.
Perubahan hormonal dan perubahan tubuh terjadi rata-rata 2 tahun lebih awal pada perempuan daripada laki-laki.
Perubahan tubuh yang terjadi pd perempuan:
- pertambahan tinggi badan yang pesat, mengalami menarche, pertumbuhan buah dada dan pertumbuhan rambut pada bagian tubuh tertentu.
Perubahan tubuh yang terjadi pada laki-laki:
-pertambahan tinggi badan yang pesat, pertumbuhan penis, pertumbuhan testis dan pertumbuhan rambut pada bagian tubuh tertentu.
Perkembangan fisik dan kognitif pada masa remaja
Transisi dari kanak-kanak ke masa remaja
Sifat kontinuitas dan diskontinuitas.
Perkembangan fisik
Hormon testosteron dan estradiol memainkan peranan penting dalam perkembangan pubertas
Remaja memperlihatkan minat yang besar terhadap citra tubuhnya.
Perkembangan kognitif
Pemikiran operasional formal : lebih abstrak, idealistis dan logis
Kognisi sosial : remaja mengalami adolescent egocentrism
- Kemampuan pengambilan keputusan semakin meningkat
Masalah dan gangguan remaja
Masalah utama yang sering dihadapi remaja:
Obat-obatan terlarang dan alkohol: ganja, obat perangsang, obat penenang.
Kehamilan remaja.
Persoalan kehamilan remaja menyentuh banyak isu sosial: perang terhadap hak aborsi, alat kontrasepsi, pendidikan seks di sekolah.
Bunuh diri: keadaan yang penuh ketegangan, kehamilan yang tidak diinginkan, kehilangan orang yang dicintai, depresi, kurangnya afeksi dan dukungan orang tua.
Anoreksia nervosa dan Bulimia: citra tubuh yang menyimpang (tren tubuh kurus), motivasi untuk menarik perhatian, keinginan akan individualitas, kekangan ortu.
Kenakalan remaja
Kenakalan remaja (juvenile deliquency) mengacu pada rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dpt diterima secara sosial, pelanggaran dan perbuatan kriminal.
Secara hukum jenis-jenis kenakalan dikategorikan:
Index offenses (tindakan kriminal)
-perampokan, penyerangan dengan kekerasan,pemerkosaan dan pembunuhan.
Status offenses (pelanggaran status)
- bolos sekolah, lari dari rumah, mabuk, melacur, ketidak mampuan mengendalikan diri.
Antendens of deliquency (Perilaku yang mendahului kenakalan)
Beberapa prediktor yang menjadi pemicu kenakalan remaja:
Pengendalian diri rendah
Prestasi rendah
Harapan bagi pendidikan ( harapan dan komitmen yang rendah)
Pengaruh teman sebaya
Status sosial ekonomi rendah
Peran orang tua: kurang pemantauan, kurang dukungan, disiplin tidak efektif.
Kualitas lingkungan : tingginya kejahatan, tingginya mobilitas.
Pencegahan dan penanganan
Upaya yang dilakukan untuk mengurangi kenakalan remaja:
Terapi individual, kelompok, terapi keluarga, modifikasi perilaku, rekreasi, sekolah-sekolah alternatif, organisasi komunitas dst.
Merencanakan program-program kegiatan dengan beberapa syarat:
Program harus luas cakupannya.
Program harus punya komponen-komponen ganda.
Program harus dimulai sejak awal masa perk. anak.
Sekolah harus memiliki kepemimpinan yang kuat.
Program harus diarahkan pada perubahan institusional daripada individual.
Memberi perhatian pada individu secara intensif dan merancang program secara unik bagi anak yang beresiko menjadi nakal.
Program dilaksaanakan secara berkesinambungan.
Penyesuaian diri remaja
Pengertian penyesuaian diri:
Berarti adaptasi, dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmani rohani dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial.
Berarti konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standart atau prinsip.
Berarti penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respon sehingga dapat mengatasi konflik, kesulitan dan frustrasi secara efisien.
Berarti penguasaan dan kematangan emosional maksudnya secara positif memiliki respon emosional yang tepat pada setiap situasi
Kesimpulan:
Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannnya.
Penyesuaian diri remaja
Pengertian penyesuaian diri:
Berarti adaptasi, dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmani rohani dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial.
Berarti konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standart atau prinsip.
Berarti penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respon sehingga dapat mengatasi konflik, kesulitan dan frustrasi secara efisien.
Berarti penguasaan dan kematangan emosional maksudnya secara positif memiliki respon emosional yang tepat pada setiap situasi
Kesimpulan:
Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannnya.
Indera keenam (Salah satu bakat khusus manusia)
Pada umumnya, kita mengenal lima indera (panca indera) yang dapat dibuktikan oleh science.
Ada banyak indera manusia yang lain dan sampai saat ini masih diteliti lebih jauh oleh para ilmuwan.
Contoh: indera vestibular, indera keseimbangan, indera kinetik, indera topografis.
Orang-orang yang memiliki sensivisitas, misalnya dapat “melihat” masa depan, makhluk halus atau dapat mendengar diatas atau dibawah frekuensi normal dipukul rata memiliki indera keenam atau istilah populernya disebut indigo.
Lanjutan
Saat ini semakin banyak kita temukan anak-anak indigo yang memiliki bakat khusus dalam berbagai kemampuan.
Kemampuan khusus tersebut belum dapat diakui sebagai bagian dari psikologi karena belum dapat dibuktikan secara ilmiah.
Bakat-bakat istimewa tersebut dimasukkan dalam ranah parapsikologi(belum menjadi psikologi).
Saran bagi Pendidik/Guru:
Bakat istimewa tersebut sebaiknya dipahami oleh orang tua/Guru dan apabila akan dikembangkan dapat diasah dan dikelola dan digunakan untuk kepentingan kemanusiaan. Bukan sebaliknya, misalnya untuk hal-hal yang menyesatkan dan mencari keuntungan finansial.
Bakat, kemampuan dan kapasitas
Bakat adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih.
Kemampuan adalah daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan.
Bakat khusus/talent adalah kemampuan bawaan dalam bidang tertentu.
(Baca teori multiple intelligensi)
Faktor yang mempengaruhi bakat khusus:
- Dari dalam anak sendiri
- Lingkungan
Perbedaan individu dalam bakat khusus
Setiap orang mempunyai bakat-bakat tertentu, hanya berbeda jenis dan derajatnya.
Anak berbakat adalah mereka yang mempunyai bakat-bakat dalam derajat tinggi dan bakat-bakat yang unggul.
Perbedaan bakat antara masing-masing peserta didik dapat meliputi macam-macam bidang yang tidak hanya terbatas pada bakat akademik tetapi bakat seni ataupun yang sifatnya non intelektual.
Apa yang dimaksud anak indigo?
Secara harafiah, indigo adalah nama warna antara biru dan ungu yang kerap disebut nila.
Istilah anak indigo diketemukan oleh Nancy Ann Torp, seorang konselor pada tahun 1070.Ia meneliti warna aura manusia dan menghubungkan dengan kepribadian. Mereka yang memiliki aura nila atau indigo ternyata adalah anak-anak yang dianugerahi kelebihan, khususnya kemampuan indera keenam.
Anak indigo adalah anak-anak yang umumnya tidak mudah berkompromi, tidak mudah diatur oleh kekuasaan, emosional, sangat berbakat atau berkemampuan akademis baik, mempunyai kemampuan metafisis, mudah bersikap empati, terlihat sangat dingin dan tak berperasaan atau bahkan memiliki kebijakan melebihi usianya.
Mendidik anak indigo
Tips mendidik anak indigo:
Perlakukan mereka dengan penuh penghargaan dan dengarkan pendapatnya.
Bantu mereka membangun bakat dan kemampuannya.
Bangunlah sikap kooperatif dan hindari memberi perintah.
Bersikap toleran terhadap emosinya yang ekstrim.
Dorong mereka untuk memberi sumber kedamaian bagi orang lain.
Jelaskan MENGAPA untuk semua hal. Misal: mengapa ada aturan, mengapa ada pekerjaan rumah, mengapa dunia seperti ini dst.
Kurangi obat-obat penenang bagi anak indigo.
Aspek psikologis yang menyertai perubahan phisik remaja
Remaja disibukkan dengan urusan fisik dalam rangka mengembangkan citra individual mengenai gambaran tubuh ideal.
Beberapa kategori remaja dalam memasuki masa pubertas:
Lebih cepat matang (early maturing)
Terlambat matang (late maturing)
Cepat matang (fast maturing)
Lambat matang (slow maturing)
Tugas perkembangan remaja pada umumnya
Tugas perkembangan remaja:
Menerima kondisi jasmaninya dan memelihara serta menggunakannya secara efektif.
Mendapatkan hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya dari kedua jenis kelamin.
Mencapai peran sosial pria dan wanita
Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab
Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lain.
Mendapatkan kemampuan untuk berdiri sendiri dalam hal ekonomi
Memperoleh perangkat nilai dan falsafah hidup.
Karakteristik penyesuaian diri
Penyesuaian diri secara positif, ciri-cirinya:
Tidak menunjukkan ketegangan emosional, tidak frustrasi, memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri, bersikap realistik, tidak menunjukkan mekanisme psikologis.
Bentuk penyesuaian diri secara positif:
Menghadapi masalah secara langsung, melakukan eksplorasi, mencari pengganti/substitusi, menggali kemampuan, pengendalian diri/inhibisi dst.
Lanjutan
Penyesuaian diri yang salah.
Kegagalan individu dalam proses penyesuaian diri secara positif, dapat mengakibatkan individu melakukan berbagai bentuk reaksi.
Reaksi bertahan(Defence Reaction).
Individu berusaha untuk mempertahankan dirinya, seolah-olah tidak menghadapi kegagalan.Bentuk khusus reaksi tsb adalah:
Rasionalisasi yaitu bertahan dengan mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakannya.
Represi yaitu berusaha menekan pengalaman yang kurang enak kealam tidak sadar.
Proyeksi yaitu melemparkan sebab kegagalan dirinya kepada pihak lain untuk mencari alasan yang dapat diterima.
“Sour grapes” yaitu dengan memutarbalikkan kenyataan.
Reaksi menyerang (Agresif Reaction).
Orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah, menunjukkan tingkah laku menyerang untuk menutupi kegagalannya.
Reaksinya dalam bentuk tingkah laku:
Ingin berkuasa dalam setiap situasi, mengganggu orang lain, menunjukkan sikap menyerang, keras kepala, balas dendam, sadisme.
Reaksi melarikan diri (Escape Reaction).
Orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah akan melarikan diri dari situasi yang menimbulkan kegagalannya.
Reaksinya dalam bentuk tingkah laku:
Berfantasi, banyak tidur, minum minuman keras, menjadi pecandu ganja, narkotika, regresi dll.
Istilah lain: puberteit, adolescentia, youth
Istilah puberty (Inggris) atau puberteit (Belanda) berasal dari bahasa latin pubertas yang artinya usia kedewasaan
Pubescere dan puberty sering diartikan sebagai masa tercapainya kematangan seksual ditinjau dari aspek biologis
Adolescentia berasal dari bahasa latin adulescentis yang berarti masa muda, menunjuk pada usia 12 sd 22 tahun dan mencakup seluruh perkembangan psikhis yang terjadi pada masa tersebut
Di Indonesia baik istilah pubertas maupun adolescensia dipakai dalam arti umum dengan istilah yang sama yaitu remaja
PENGERTIAN REMAJA
Remaja menurut hukum.
Dalam hubungannya dengan bidang hukum, konsep remaja dikenal kaitannya dengan Undang-undang perkawinan.
Usia minimal suatu perkawinan bagi wanita 16 tahun dan pria 19 tahun.
Waktu antara 16 dan 19 tahun sampai 22 tahun ini disejajarkan dengan pengertian remaja dalam ilmu-ilmu sosial yaitu psikologi.
2. Remaja dari sudut perkembangan fisik.
Secara anatomis, remaja dikenal sebagai tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya.
Masa pematangan fisik berjalan lebih kurang 2 tahun dan dihitung mulai menstruasi pada wanita dan sejak pria mengalami mimpi basah.
Masa 2 tahun ini dinamakan masa pubertas.
Pada masa kini, masa puber mulai sulit ditetapkan karena cepat lambatnya sangat bergantung pada faktor-faktor yang tidak mudah untuk dikendalikan.
Batasan remaja menurut WHO:
Usia remaja: 19 sd 20 th, dengan ketentuan remaja awal 10–14 th dan remaja akhir 15 -20 th.
PBB menetapkan usia pemuda (youth) : 15 – 24 th.
Di Indonesia , batasan remaja yang mendekati batasan PBB tentang pemuda adalah kurun usia 14 – 24 Tahun.
Remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan dimana:
Individu berkembang dari saat pertama kali menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.
4. Remaja ditinjau dari faktor sosial psikologis.
Ciri remaja “Perkembangan psikologis dan pada identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa”.
Puncak perkembangan jiwa ditandai dengan adanya proses perubahan dari entropy ke kondisi negentropy.
Entropy: keadaan dimana kesadaran manusia masih belum tersusun rapi artinya walau isinya sudah banyak (pengetahuan, pengalaman dst), tetapi hal tersebut belum saling terkait dengan baik sehingga belum dapat berfungsi secara maksimal.
Negentropy: keadaan dimana isi kesadaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan dan sikap.
Problematika sosial psikologis remaja:
Konflik /Friksi dialami pada remaja yang berada dalam masyarakat yang menuntut persyaratan yang berat untuk menjadi dewasa.
Misal: tuntutan mencapai pendidikan yang setinggi-tingginya.
Definisi Remaja (untuk masyarakat Indonesia)
Pedoman umum remaja di Indonesia dapat digunakan batasan usia
11 – 24 tahun. Alasannya:
Usia 11 th adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (kriteria fisik).
Usia 11 th sudah dianggap akil balik, baik menurut adat maupun agama.
Mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri (ego identity), tercapainya fase genital dari perkembangan koknitif maupun moral.
Batas usia 24 th merupakan batas maksimal, yaitu untuk memberi peluang bagi mereka yang masih menggantungkan diri pada orang tua karena masih menempuh pendidikan sehingga belum punya hak penuh sebagai orang dewasa.
e. Status perkawinan sangat menentukan. Artinya seseorang yang sudah menikah dalam usia berapapun akan dianggap dan diperlakukan seperti orang dewasa penuh baik secara hukum maupun di masyarakat.
Masa pubertas
Perubahan-perubahan masa pubertas membingungkan remaja saat mereka menjalani. Berikut ungkapan hati seorang remaja:
Aku tidak menyukai rupa seperti ini. Wajahku penuh jerawat. Rambutku kusam dan kaku. Hidungku terlalu besar, bibirku terlalu kecil. Kakiku terlalu pendek. Ada 4 tahi lalat besar diwajahku. Aku merasa malu sekali. Pokoknya tubuhku adalah sebuah bencana
Perubahan masa pubertas
Pubertas adalah periode dimana kematangan kerangka dan seksual terjadi secara pesat pada awal masa remaja.
Perubahan hormonal dan perubahan tubuh terjadi rata-rata 2 tahun lebih awal pada perempuan daripada laki-laki.
Perubahan tubuh yang terjadi pd perempuan:
- pertambahan tinggi badan yang pesat, mengalami menarche, pertumbuhan buah dada dan pertumbuhan rambut pada bagian tubuh tertentu.
Perubahan tubuh yang terjadi pada laki-laki:
-pertambahan tinggi badan yang pesat, pertumbuhan penis, pertumbuhan testis dan pertumbuhan rambut pada bagian tubuh tertentu.
Perkembangan fisik dan kognitif pada masa remaja
Transisi dari kanak-kanak ke masa remaja
Sifat kontinuitas dan diskontinuitas.
Perkembangan fisik
Hormon testosteron dan estradiol memainkan peranan penting dalam perkembangan pubertas
Remaja memperlihatkan minat yang besar terhadap citra tubuhnya.
Perkembangan kognitif
Pemikiran operasional formal : lebih abstrak, idealistis dan logis
Kognisi sosial : remaja mengalami adolescent egocentrism
- Kemampuan pengambilan keputusan semakin meningkat
Masalah dan gangguan remaja
Masalah utama yang sering dihadapi remaja:
Obat-obatan terlarang dan alkohol: ganja, obat perangsang, obat penenang.
Kehamilan remaja.
Persoalan kehamilan remaja menyentuh banyak isu sosial: perang terhadap hak aborsi, alat kontrasepsi, pendidikan seks di sekolah.
Bunuh diri: keadaan yang penuh ketegangan, kehamilan yang tidak diinginkan, kehilangan orang yang dicintai, depresi, kurangnya afeksi dan dukungan orang tua.
Anoreksia nervosa dan Bulimia: citra tubuh yang menyimpang (tren tubuh kurus), motivasi untuk menarik perhatian, keinginan akan individualitas, kekangan ortu.
Kenakalan remaja
Kenakalan remaja (juvenile deliquency) mengacu pada rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dpt diterima secara sosial, pelanggaran dan perbuatan kriminal.
Secara hukum jenis-jenis kenakalan dikategorikan:
Index offenses (tindakan kriminal)
-perampokan, penyerangan dengan kekerasan,pemerkosaan dan pembunuhan.
Status offenses (pelanggaran status)
- bolos sekolah, lari dari rumah, mabuk, melacur, ketidak mampuan mengendalikan diri.
Antendens of deliquency (Perilaku yang mendahului kenakalan)
Beberapa prediktor yang menjadi pemicu kenakalan remaja:
Pengendalian diri rendah
Prestasi rendah
Harapan bagi pendidikan ( harapan dan komitmen yang rendah)
Pengaruh teman sebaya
Status sosial ekonomi rendah
Peran orang tua: kurang pemantauan, kurang dukungan, disiplin tidak efektif.
Kualitas lingkungan : tingginya kejahatan, tingginya mobilitas.
Pencegahan dan penanganan
Upaya yang dilakukan untuk mengurangi kenakalan remaja:
Terapi individual, kelompok, terapi keluarga, modifikasi perilaku, rekreasi, sekolah-sekolah alternatif, organisasi komunitas dst.
Merencanakan program-program kegiatan dengan beberapa syarat:
Program harus luas cakupannya.
Program harus punya komponen-komponen ganda.
Program harus dimulai sejak awal masa perk. anak.
Sekolah harus memiliki kepemimpinan yang kuat.
Program harus diarahkan pada perubahan institusional daripada individual.
Memberi perhatian pada individu secara intensif dan merancang program secara unik bagi anak yang beresiko menjadi nakal.
Program dilaksaanakan secara berkesinambungan.
Penyesuaian diri remaja
Pengertian penyesuaian diri:
Berarti adaptasi, dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmani rohani dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial.
Berarti konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standart atau prinsip.
Berarti penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respon sehingga dapat mengatasi konflik, kesulitan dan frustrasi secara efisien.
Berarti penguasaan dan kematangan emosional maksudnya secara positif memiliki respon emosional yang tepat pada setiap situasi
Kesimpulan:
Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannnya.
Penyesuaian diri remaja
Pengertian penyesuaian diri:
Berarti adaptasi, dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmani rohani dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial.
Berarti konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standart atau prinsip.
Berarti penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respon sehingga dapat mengatasi konflik, kesulitan dan frustrasi secara efisien.
Berarti penguasaan dan kematangan emosional maksudnya secara positif memiliki respon emosional yang tepat pada setiap situasi
Kesimpulan:
Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannnya.
Indera keenam (Salah satu bakat khusus manusia)
Pada umumnya, kita mengenal lima indera (panca indera) yang dapat dibuktikan oleh science.
Ada banyak indera manusia yang lain dan sampai saat ini masih diteliti lebih jauh oleh para ilmuwan.
Contoh: indera vestibular, indera keseimbangan, indera kinetik, indera topografis.
Orang-orang yang memiliki sensivisitas, misalnya dapat “melihat” masa depan, makhluk halus atau dapat mendengar diatas atau dibawah frekuensi normal dipukul rata memiliki indera keenam atau istilah populernya disebut indigo.
Lanjutan
Saat ini semakin banyak kita temukan anak-anak indigo yang memiliki bakat khusus dalam berbagai kemampuan.
Kemampuan khusus tersebut belum dapat diakui sebagai bagian dari psikologi karena belum dapat dibuktikan secara ilmiah.
Bakat-bakat istimewa tersebut dimasukkan dalam ranah parapsikologi(belum menjadi psikologi).
Saran bagi Pendidik/Guru:
Bakat istimewa tersebut sebaiknya dipahami oleh orang tua/Guru dan apabila akan dikembangkan dapat diasah dan dikelola dan digunakan untuk kepentingan kemanusiaan. Bukan sebaliknya, misalnya untuk hal-hal yang menyesatkan dan mencari keuntungan finansial.
Bakat, kemampuan dan kapasitas
Bakat adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih.
Kemampuan adalah daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan.
Bakat khusus/talent adalah kemampuan bawaan dalam bidang tertentu.
(Baca teori multiple intelligensi)
Faktor yang mempengaruhi bakat khusus:
- Dari dalam anak sendiri
- Lingkungan
Perbedaan individu dalam bakat khusus
Setiap orang mempunyai bakat-bakat tertentu, hanya berbeda jenis dan derajatnya.
Anak berbakat adalah mereka yang mempunyai bakat-bakat dalam derajat tinggi dan bakat-bakat yang unggul.
Perbedaan bakat antara masing-masing peserta didik dapat meliputi macam-macam bidang yang tidak hanya terbatas pada bakat akademik tetapi bakat seni ataupun yang sifatnya non intelektual.
Apa yang dimaksud anak indigo?
Secara harafiah, indigo adalah nama warna antara biru dan ungu yang kerap disebut nila.
Istilah anak indigo diketemukan oleh Nancy Ann Torp, seorang konselor pada tahun 1070.Ia meneliti warna aura manusia dan menghubungkan dengan kepribadian. Mereka yang memiliki aura nila atau indigo ternyata adalah anak-anak yang dianugerahi kelebihan, khususnya kemampuan indera keenam.
Anak indigo adalah anak-anak yang umumnya tidak mudah berkompromi, tidak mudah diatur oleh kekuasaan, emosional, sangat berbakat atau berkemampuan akademis baik, mempunyai kemampuan metafisis, mudah bersikap empati, terlihat sangat dingin dan tak berperasaan atau bahkan memiliki kebijakan melebihi usianya.
Mendidik anak indigo
Tips mendidik anak indigo:
Perlakukan mereka dengan penuh penghargaan dan dengarkan pendapatnya.
Bantu mereka membangun bakat dan kemampuannya.
Bangunlah sikap kooperatif dan hindari memberi perintah.
Bersikap toleran terhadap emosinya yang ekstrim.
Dorong mereka untuk memberi sumber kedamaian bagi orang lain.
Jelaskan MENGAPA untuk semua hal. Misal: mengapa ada aturan, mengapa ada pekerjaan rumah, mengapa dunia seperti ini dst.
Kurangi obat-obat penenang bagi anak indigo.
Aspek psikologis yang menyertai perubahan phisik remaja
Remaja disibukkan dengan urusan fisik dalam rangka mengembangkan citra individual mengenai gambaran tubuh ideal.
Beberapa kategori remaja dalam memasuki masa pubertas:
Lebih cepat matang (early maturing)
Terlambat matang (late maturing)
Cepat matang (fast maturing)
Lambat matang (slow maturing)
Tugas perkembangan remaja pada umumnya
Tugas perkembangan remaja:
Menerima kondisi jasmaninya dan memelihara serta menggunakannya secara efektif.
Mendapatkan hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya dari kedua jenis kelamin.
Mencapai peran sosial pria dan wanita
Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab
Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lain.
Mendapatkan kemampuan untuk berdiri sendiri dalam hal ekonomi
Memperoleh perangkat nilai dan falsafah hidup.
Karakteristik penyesuaian diri
Penyesuaian diri secara positif, ciri-cirinya:
Tidak menunjukkan ketegangan emosional, tidak frustrasi, memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri, bersikap realistik, tidak menunjukkan mekanisme psikologis.
Bentuk penyesuaian diri secara positif:
Menghadapi masalah secara langsung, melakukan eksplorasi, mencari pengganti/substitusi, menggali kemampuan, pengendalian diri/inhibisi dst.
Lanjutan
Penyesuaian diri yang salah.
Kegagalan individu dalam proses penyesuaian diri secara positif, dapat mengakibatkan individu melakukan berbagai bentuk reaksi.
Reaksi bertahan(Defence Reaction).
Individu berusaha untuk mempertahankan dirinya, seolah-olah tidak menghadapi kegagalan.Bentuk khusus reaksi tsb adalah:
Rasionalisasi yaitu bertahan dengan mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakannya.
Represi yaitu berusaha menekan pengalaman yang kurang enak kealam tidak sadar.
Proyeksi yaitu melemparkan sebab kegagalan dirinya kepada pihak lain untuk mencari alasan yang dapat diterima.
“Sour grapes” yaitu dengan memutarbalikkan kenyataan.
Reaksi menyerang (Agresif Reaction).
Orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah, menunjukkan tingkah laku menyerang untuk menutupi kegagalannya.
Reaksinya dalam bentuk tingkah laku:
Ingin berkuasa dalam setiap situasi, mengganggu orang lain, menunjukkan sikap menyerang, keras kepala, balas dendam, sadisme.
Reaksi melarikan diri (Escape Reaction).
Orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah akan melarikan diri dari situasi yang menimbulkan kegagalannya.
Reaksinya dalam bentuk tingkah laku:
Berfantasi, banyak tidur, minum minuman keras, menjadi pecandu ganja, narkotika, regresi dll.
Kamis, 04 Februari 2010
SEJARAH AC MILAN
Awal masa terbentuk
“ Saremo una squadra di diavoli. I nostri colori saranno il rosso come il fuoco e il nero come la paura che incuteremo agli avversari! ”
—Herbert Kilpin
Klub ini didirikan oleh dua orang ekspatriat Inggris , yaitu Herbert Kilpin dan Alfred Edwards dengan nama Klub Kriket dan Sepakbola Milan pada tahun 16 Desember 1899. Pada saat itu, Edwards menjadi Presiden klub pertama Milan dan Kilpin menjadi kapten tim pertama Milan. Musim 1901, Milan memenangkan gelar pertamanya sebagai jawara sepakbola Italia, setelah mengalahkan Genoa C.F.C. 3-0 di final Kejuaraan Sepakbola Italia. Pada 1908, sebagian pemain dari Italia dan para pemain dari Swiss yang tidak menyukai dominasi orang Italia dan Inggris dalam skuad inti Milan saat itu, memisahkan diri dari Milan dan membentuk Internazionale.
[sunting] Masa GreNoLi
GreNoLi
Pada dekade 50-an, Milan ditakuti di bidang sepakbola dunia karena mempunyai trio GreNoLi , yang terdiri atas Gunnar Gren , Gunnar Nordahl , dan Nils Liedholm .Ketiganya merupakan pemain asal Swedia. Gren dan Nordahl beroperasi di sektor depan sebagai striker, sementara Liedholm mendukung serangan sebagai penyerang bayangan (playmaker). Tim di masa ini juga dihuni oleh sekelompok pemain-pemain berkualitas pada masanya, seperti Lorenzo Buffon, Cesare Maldini, dan Carlo Annovazzi. Kemenangan tersukses AC Milan oleh Juventus tercipta 5 Februari 1950, dengan skor 7-1, dan Gunnar Nordahl mencetak hat-trick.
[sunting] Era Nereo Rocco
Milan kembali memenangi musim 1961/1962. Pelatihnya saat itu adalah Nereo Rocco, pelatih sepakbola yang inovatif, yang dikenal sebagai penemu taktik catenaccio (pertahanan berantai). Di dalam tim termasuk Gianni Rivera dan José Altafini yang keduanya masih muda. Musim berikutnya, dengan gol Altafini, Milan memenangkan Piala Eropa pertama mereka (kemudian dikenal sebagai Liga Champions UEFA) dengan mengalahkan Benfica 2-1. Ini juga merupakan pertama kalinya sebuah tim Italia memenangkan Piala Eropa.
Meskipun begitu, selama tahun 1960-an piala kemenangan Milan mulai menyusut , terutama karena perlawanan berat dari Inter yang dilatih Helenio Herrera. Scudetto berikutnya tiba hanya di 1967/1968, berkat gol Pierino Prati, topskor Seri A di musim itu, Piala Winners berhasil direbut ketika mengalahkan Hamburger SV, dan juga berkat dua gol dari Kurt Hamrin. Musim selanjutnya AC Milan memenangkan Piala Eropa kedua (4-1 untuk AFC Ajax), dan pada 1969 memenangkan Piala Interkontinental pertama, setelah mengalahkan Estudiantes de La Plata dari Argentina dalam dua leg dramatis (3-0, 1-2).
[sunting] Scudetto kesepuluh dan Seri B
Di tahun 1970, Milan merebut tiga gelar Coppa Italia dan gelar Piala Winners kedua; namun, tujuan utama Milan adalah scudetto kesepuluh, yang berarti mendapatkan "bintang" untuk tim. Di 1972 mereka meraih semifinal Piala UEFA, kalah dari pemenang sesungguhnya, Tottenham Hotspur. Musim 1972/1973 mereka hampir memenangkan scudetto kesepulh, namun gagal karena hasil kalah menyakitkan dari Hellas Verona F.C. di pertandingan terakhir musim. AC Milan menunggu sampai musim 1978/1979 untuk meraih scudetto kesepuluh mereka, yang dipimpin oleh Gianni Rivera, yang pensiun dari dunia sepak bola setelah membawa timnya meraih kemenangan tersebut.
Namun, hasil terburuk datang kepada "Rossoneri": setelah memenangkan musim 1979/1980, Milan didegradasi ke Seri B oleh F.I.G.C, bersama S.S. Lazio, karena terlibat skandal perjudian Totonero 1980. Di 1980/1981, Milan dengan mudah menjuarai Seri B, dan kembali ke Seri A, di mana penyakit tersebut terulang di musim 1981/1982, Milan terdegradasi kembali.
[sunting] Kedatangan Berlusconi
Setelah serentetan masalah menerpa Milan, dan membuat klub kehilangan suksesnya, AC Milan dibeli oleh enterpreneur Italia, Silvio Berlusconi. Berlusconi adalah sinar harapan Milan kala itu. Dia datang pada 1986. Berlusconi memboyong pelatih baru untuk Milan, Arrigo Sacchi, serta tiga orang pemain Belanda, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit, untuk mengembalikan tim pada kejayaan. Ia juga membeli pemain lainnya, seperti Roberto Donadoni, Carlo Ancelotti, dan Giovanni Galli.
[sunting] Menyongsong kejayaan kembali (Era Sacchi)
Arrigo Sacchi
Sacchi memenangkan Seri A musim 1987-1988. Di 1988-1989, Milan memenangkan gelar Liga Champions ketiganya, mempecundangi Steaua Bucureşti 4-0 di final, dan gelar Piala Interkontinental kedua mengalahkan National de Medellin (1-0, gol tercipta di babak perpanjangan waktu). Tim mulai mengulangi kejayaan mereka di musim-musim berikutnya, mengalahkan S.L. Benfica, dan Olimpia Asunción di 1990. Skuad kemenangan Eropa mereka adalah:
Kiper : Giovanni Galli
Bek : Mauro Tassotti -- Alessandro Costacurta -- Franco Baresi -- Paolo Maldini
Gelandang : Angelo Colombo -- Frank Rijkaard -- Carlo Ancelotti -- Roberto Donadoni
Penyerang : Ruud Gullit -- Marco van Basten
[sunting] Masa keemasan (Era Capello)
Fabio Capello
Saat Sacchi meninggalkan Milan untuk melatih Italia, Fabio Capello dijadikan pelatih Milan selanjutnya, dan Milan meraih masa keemasannya sebagai Gli Invicibli (The Invicibles) dan Dream Team. Dengan 58 pertandingan tanpa satu pun kekalahan Invicibli membuat tim impian di semua sektor seperti Baresi, Costacurta, dan Maldini memimpin pertahanan terbaik, Marcel Desailly, Donadoni, dan Ancelotti di gelandang, dan Dejan Savićević, Zvonimir Boban, dan Daniele Massaro bermain di sektor depan.
[sunting] Masa masa sulit (Tabarez ke Treim)
1996-1997
Setelah kepergian Fabio Capello pada tahun 1996, Milan merekrut Oscar Washington Tabarez tetapi perjuangan keras di bawah kendalinya kurang berhasil dan mereka selalu kalah dalam beberapa pertandingan awal. Dalam upaya untuk mendapatkan kembali kejayaan masa lalu, mereka memanggil kembali Arrigo Sacchi untuk menggantikan Tabarez. Milan mendapatkan tamparan keras kekalahan terburuk mereka di Seri A, dipermalukan oleh Juventus F.C. di rumah mereka sendiri San Siro dengan skor 1-4. Milan membeli sejumlah pemain baru seperti Ibrahim Ba, Christophe Dugarry dan Edgar Davids. Milan berjuang keras dan mengakhiri musim 1996-1997 di peringkat kesebelas di Seri A.
1997-1998
Sacchi digantikan dengan Capello di musim berikutnya. Capello yang menandatangani kontrak baru dengan Milan merekrut banyak pemain potensial seperti Kristen Ziege, Patrick Kluivert, Jesper Blomqvist, dan Leonardo; tetapi hasilnya sama buruk dengan musim sebelumnya. Musim 1997-1998 mereka berakhir di peringkat kesepuluh. Hasil ini tetap tidak bisa diterima para petinggi Milan, dan seperti Sacchi, Capello dipecat.
1998-1999
Dalam pencarian mereka untuk seorang manajer baru, Alberto Zaccheroni menarik perhatian Milan. Zaccheroni adalah manajer Udinese yang telah mengakhiri musim 1997-1998 pada peringkat yang tinggi di tempat ke-3. Milan mengontrak Zaccheroni bersama dengan dua orang pemain dari Udinese, Oliver Bierhoff dan Thomas Helveg. Milan juga menandatangani Roberto Ayala, Luigi Sala dan Andres Guglielminpietro dan dengan formasi kesukaan Zaccheroni 3-4-3, Zaccheroni membawa klub memenangkan scudetto ke-16 kembali ke Milan. Starting XI adalah: Christian Abbiati; Luigi Sala, Alessandro Costacurta, Paolo Maldini; Thomas Helveg, Demetrio Albertini, Massimo Ambrosini, Andres Guglielminpietro; Zvonimir Boban, George Weah, Oliver Bierhoff.
1999-2000
Meskipun sukses di musim sebelumnya, Zaccheroni gagal untuk mentransformasikan Milan seperti The Dream Team dulu. Pada musim berikutnya, meskipun munculnya striker Ukraina Andriy Shevchenko, Milan mengecewakan fans mereka baik dalam Liga Champions UEFA 1999-2000 ataupun Seri A. Milan keluar dari Liga Champions lebih awal, hanya memenangkan satu dari enam pertandingan (tiga seri dan dua kalah) dan mengakhiri musim 1999-2000 di tempat ke-3. Milan tidaklah menjadi sebuah tantangan bagi dua pesaing scudetto kala itu, S.S. Lazio dan Juventus.
2000-2001
Pada musim berikutnya, Milan memenuhi syarat untuk Liga Champions UEFA 2000-2001 setelah mengalahkan Dinamo Zagreb agregat 9-1. Milan memulai Liga Champions dengan semangat tinggi, mengalahkan Beşiktaş JK dari Turki dan raksasa Spanyol FC Barcelona, yang pada waktu itu terdiri dari superstar internasional kelas dunia, Rivaldo dan Patrick Kluivert. Tapi performa Milan mulai menurun secara serius, seri melawan sejumlah tim (yang dipandang sebagai kecil/lemah secara teknis untuk Milan), terutama kalah 2-1 oleh Juventus di Seri A dan 1-0 untuk Leeds United. Dalam Liga Champions putaran kedua, Milan hanya menang sekali dan seri empat kali. Mereka gagal untuk mengalahkan Deportivo de La Coruña dari Spanyol di pertandingan terakhir dan Zaccheroni dipecat. Cesare Maldini, ayah dari kapten tim Paolo, diangkat dan hal segera menjadi lebih baik. Debut kepelatihan resmi Maldini di Milan dimulai dengan menang 6-0 atas A.S. Bari, yang masih memiliki senjata muda, Antonio Cassano. Itu juga di bawah kepemimpinan Maldini bahwa Milan mengalahkan saingan berat sekota Internazionale dengan skor luar biasa 6-0, skor yang tidak pernah diulang dan di mana Serginho membintangi pertandingan. Namun, setelah bentuk puncak ini, Milan mulai kehilangan lagi termasuk kekalahan 1-0 yang mengecewakan untuk Vicenza Calcio, dengan satu-satunya gol dalam pertandingan dicetak oleh seorang Luca Toni. Terlepas dari hasil ini, dewan direksi Milan bersikukuh bahwa Milan mencapai tempat keempat di liga di akhir musim, tapi Maldini gagal dan tim berakhir di tempat keenam.
2001-2002
Milan memulai musim 2000-2001 dengan lebih banyak penandatanganan kontrak pemain bintang termasuk Javi Moreno dan Cosmin Contra yang membawa Deportivo Alavés ke putaran final Piala UEFA. Mereka juga menandatangani Kakha Kaladze (dari Dynamo Kyiv), Rui Costa (dari AC Fiorentina), Filippo Inzaghi (dari Juventus), Martin Laursen (dari Hellas Verona), Jon Dahl Tomasson (dari Feyenoord), Ümit Davala (dari Galatasaray) dan Andrea Pirlo (dari Inter Milan). Fatih Terim diangkat sebagai manajer, menggantikan Cesare Maldini, dan cukup sukses. Namun, setelah lima bulan di klub, Milan tidak berada di lima besar liga dan Terim dipecat karena gagal memenuhi direksi harapan.
[sunting] Kembalinya gelar prestisius (Era Ancelotti)
Terim digantikan oleh Carlo Ancelotti, meskipun rumor bahwa Franco Baresi akan menjadi manajer baru. Terlepas dari masalah cedera pemain belakang Paolo Maldini, Ancelotti berhasil dan mengakhiri musim 2001-02 dalam peringkat empat, tempat terakhir untuk di Liga Champions. Starting XI pada saat itu adalah Christian Abbiati; Cosmin Contra, Alessandro Costacurta, Martin Laursen, Kakha Kaladze, Gennaro Gattuso, Demetrio Albertini, Serginho; Manuel Rui Costa; Andriy Shevchenko, Filippo Inzaghi. Ancelotti membawa Milan meraih gelar juara Liga Champions pada musim 2002/2003 ketika mengalahkan Juventus lewat drama adu pinalti di Manchester, Inggris. Milan terakhir kali meraih gelar prestisus dengan merebut juara Liga Italia pada musim kompetisi 2003/2004 sekaligus menempatkan penyerang Andriy Shevchenko sebagai pencetak gol terbanyak di Liga Italia, maka rossoneripun semakin ditakuti.
[sunting] Pasang surut 2006-2008
Milan saat menghadapi corner musim 2006/2007
Pada musim kompetisi Liga Italia Seri A 2006/2007, Milan terkait dengan skandal calciopoli yang mengakibatkan klub tersebut harus memulai kompetisi dengan pengurangan 8 poin. Meskipun begitu, publik Italia tetap berbangga karena di tengah rusaknya citra sepak bola Italia akibat calciopoli, Milan berhasil menjuarai kompetisi sepak bola yang paling bergengsi di dunia, Liga Champions. Hasil itu didapat setelah Milan menaklukkan Liverpool 2-1 lewat dua gol Filippo Inzaghi. Gelar inipun menuntskan dendam Milan yang kalah adu penalti dengan Liverpool dua tahun silam. Gelar pencetak gol terbanyakpun disabet pemain jenius Milan, Kaká dengan torehan 10 gol. Pada pertengahan musim, Milan mendatangkan mantan pemain terbaik dunia, Ronaldo dari Real Madrid untuk memperkuat armada penyerang mereka setelah penyerang muda Marco Borriello dihukum karena terbukti doping.
Pada musim 2007/2008, Milan akhirnya harus bermain di kompetisi Piala UEFA setelah hanya berhasil menduduki peringkat ke-5 dibawah Fiorentina dengan selisih 2 poin. Dalam pertandingan Serie A yang terakhir, AC Milan menang 4-1 atas Udinese, tapi di saat bersamaan, Fiorentina juga menang atas Torino dengan skor 1-0 yang akhirnya posisi kedua tim tak ada perubahan. Untuk memperbaiki performa di musim berikut (2008/2009), Milan membeli sejumlah pemain baru, di antaranya Mathieu Flamini dari Arsenal, serta Gianluca Zambrotta dan Ronaldinho yang keduanya berasal dari Barcelona. Pada transfer paruh musim 2008/2009, Milan mendatangkan David Beckham dengan status pinjaman dari klub sepakbola Amerika Serikat LA Galaxy.
[sunting] Penunjukkan Leonardo
Oguchi Onyewu
Klaas-Jan Huntelaar
Pada akhir musim 2008/2009,Milan menempati peringkat ke-3 klasemen liga Serie A, dua peringkat di bawah rival sekota, Internazionale yang meraih scudetto dan di bawah Juventus. Untuk memperbaiki hasil yang kurang memuaskan ini, Milan mendatangkan pelatih muda yang sekaligus mantan pemain Milan era 90-an, Leonardo untuk menggantikan pelatih Milan sebelumnya, Ancelotti yang "hijrah ke London", tepatnya klub Chelsea F.C.. Milan juga terpaksa melepas beberapa pemainnya, antara lain:
* Kaka, pindah ke Real Madrid .Nilai transfernya ± 67 juta Euro
* Paolo Maldini, bek legendaris Milan ini memutuskan untuk pensiun
* Yoann Gourcuff, memutuskan untuk tetap di Bordeaux.
Masalah terbesar yang mengganjal transfer para pemain tersebut adalah pihak Milan yang selalu berpikir dua kali untuk mengeluarkan uang demi membeli seorang pemain. Pada bulan Juli dan Agustus 2009, Milan mendapatkan dua pemain baru, yaitu Oguchi Onyewu yang merupakan seorang mantan bek Standard Liège dengan status bebas transfer dan Klaas-Jan Huntelaar eks striker Real Madrid dengan nilai kontrak 14,7 juta Euro dengan durasi kontrak 4 tahun. Namun hasil yang di dapatkan Milan pada turnamen pra-musim banyak menuai kekecewaan, pemain anyar yang diturunkan oleh Milan pada saat tur pra-musim hanya Oguchi Onyewu karena Huntelaar baru bergabung bulan Agustus.
[sunting] 2009 (Era Leonardo)
Musim 2009/2010 diawali Milan dengan hasil yang tidak memuaskan. Awal petaka bermula ketika Milan meraih hasil imbang 2-2 melawan Los Angeles Galaxy, seterusnya, Milan terus menuai hasil negatif. Milan terperosok di ajang World Football Challange 2009 dengan menempati dasar klasemen, di bawah rival sekota, Internazionale, Club América, dan Chelsea. Di ajang Audi Cup, Milan juga kalah oleh Bayern Munich dengan skor 1-4. Bahkan, ketika menghadapi derby 30 Agustus 2009 melawan Internazionale di San Siro, Milan kalah memalukan dengan skor 0-4, sekaligus memecahkan rekor kemenangan terbesar Inter di San Siro.
[sunting] Kebangkitan
Pada pertengahan Oktober 2009, penilaian berbagai pihak tentang kinerja Leonardo sebagai pelatih yang tadinya berada di titik terendah akibat serentetan performa buruk, mulai terdongkrak dengan berhasilnya Leonardo memimpin Milan mengalahkan AS Roma 2-1 di San Siro[4]. Setelah kemenangan itu, Milan juga menuai hasil positif di Stadion Santiago Bernabéu dengan kemenangan dramatis atas Real Madrid 3-2[5]. Dan setelah itu, Milan kembali menuai kemenangan atas Chievo Verona di Stadio Marc'Antonio Bentegodi, kandang Chievo, skor 2-1 untuk kemenangan AC Milan. Pada 1 November 2009, Milan mengalahkan Parma F.C. di San Siro 2-0[6] sekaligus mengantarkan Milan ke peringkat 4 klasemen sementara (Zona masuk Liga Champions terakhir). Pada 19 November 2009, kekalahan 0-2 Juventus F.C. dari Cagliari membuat Milan berada di posisi runner-up di bawah Internazionale; karena, beberapa jam setelah kekalahan Juventus, Milan memenangkan pertandingannya dengan Catania, 2-0[7].
[sunting] Skuad saat ini
“ Saremo una squadra di diavoli. I nostri colori saranno il rosso come il fuoco e il nero come la paura che incuteremo agli avversari! ”
—Herbert Kilpin
Klub ini didirikan oleh dua orang ekspatriat Inggris , yaitu Herbert Kilpin dan Alfred Edwards dengan nama Klub Kriket dan Sepakbola Milan pada tahun 16 Desember 1899. Pada saat itu, Edwards menjadi Presiden klub pertama Milan dan Kilpin menjadi kapten tim pertama Milan. Musim 1901, Milan memenangkan gelar pertamanya sebagai jawara sepakbola Italia, setelah mengalahkan Genoa C.F.C. 3-0 di final Kejuaraan Sepakbola Italia. Pada 1908, sebagian pemain dari Italia dan para pemain dari Swiss yang tidak menyukai dominasi orang Italia dan Inggris dalam skuad inti Milan saat itu, memisahkan diri dari Milan dan membentuk Internazionale.
[sunting] Masa GreNoLi
GreNoLi
Pada dekade 50-an, Milan ditakuti di bidang sepakbola dunia karena mempunyai trio GreNoLi , yang terdiri atas Gunnar Gren , Gunnar Nordahl , dan Nils Liedholm .Ketiganya merupakan pemain asal Swedia. Gren dan Nordahl beroperasi di sektor depan sebagai striker, sementara Liedholm mendukung serangan sebagai penyerang bayangan (playmaker). Tim di masa ini juga dihuni oleh sekelompok pemain-pemain berkualitas pada masanya, seperti Lorenzo Buffon, Cesare Maldini, dan Carlo Annovazzi. Kemenangan tersukses AC Milan oleh Juventus tercipta 5 Februari 1950, dengan skor 7-1, dan Gunnar Nordahl mencetak hat-trick.
[sunting] Era Nereo Rocco
Milan kembali memenangi musim 1961/1962. Pelatihnya saat itu adalah Nereo Rocco, pelatih sepakbola yang inovatif, yang dikenal sebagai penemu taktik catenaccio (pertahanan berantai). Di dalam tim termasuk Gianni Rivera dan José Altafini yang keduanya masih muda. Musim berikutnya, dengan gol Altafini, Milan memenangkan Piala Eropa pertama mereka (kemudian dikenal sebagai Liga Champions UEFA) dengan mengalahkan Benfica 2-1. Ini juga merupakan pertama kalinya sebuah tim Italia memenangkan Piala Eropa.
Meskipun begitu, selama tahun 1960-an piala kemenangan Milan mulai menyusut , terutama karena perlawanan berat dari Inter yang dilatih Helenio Herrera. Scudetto berikutnya tiba hanya di 1967/1968, berkat gol Pierino Prati, topskor Seri A di musim itu, Piala Winners berhasil direbut ketika mengalahkan Hamburger SV, dan juga berkat dua gol dari Kurt Hamrin. Musim selanjutnya AC Milan memenangkan Piala Eropa kedua (4-1 untuk AFC Ajax), dan pada 1969 memenangkan Piala Interkontinental pertama, setelah mengalahkan Estudiantes de La Plata dari Argentina dalam dua leg dramatis (3-0, 1-2).
[sunting] Scudetto kesepuluh dan Seri B
Di tahun 1970, Milan merebut tiga gelar Coppa Italia dan gelar Piala Winners kedua; namun, tujuan utama Milan adalah scudetto kesepuluh, yang berarti mendapatkan "bintang" untuk tim. Di 1972 mereka meraih semifinal Piala UEFA, kalah dari pemenang sesungguhnya, Tottenham Hotspur. Musim 1972/1973 mereka hampir memenangkan scudetto kesepulh, namun gagal karena hasil kalah menyakitkan dari Hellas Verona F.C. di pertandingan terakhir musim. AC Milan menunggu sampai musim 1978/1979 untuk meraih scudetto kesepuluh mereka, yang dipimpin oleh Gianni Rivera, yang pensiun dari dunia sepak bola setelah membawa timnya meraih kemenangan tersebut.
Namun, hasil terburuk datang kepada "Rossoneri": setelah memenangkan musim 1979/1980, Milan didegradasi ke Seri B oleh F.I.G.C, bersama S.S. Lazio, karena terlibat skandal perjudian Totonero 1980. Di 1980/1981, Milan dengan mudah menjuarai Seri B, dan kembali ke Seri A, di mana penyakit tersebut terulang di musim 1981/1982, Milan terdegradasi kembali.
[sunting] Kedatangan Berlusconi
Setelah serentetan masalah menerpa Milan, dan membuat klub kehilangan suksesnya, AC Milan dibeli oleh enterpreneur Italia, Silvio Berlusconi. Berlusconi adalah sinar harapan Milan kala itu. Dia datang pada 1986. Berlusconi memboyong pelatih baru untuk Milan, Arrigo Sacchi, serta tiga orang pemain Belanda, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit, untuk mengembalikan tim pada kejayaan. Ia juga membeli pemain lainnya, seperti Roberto Donadoni, Carlo Ancelotti, dan Giovanni Galli.
[sunting] Menyongsong kejayaan kembali (Era Sacchi)
Arrigo Sacchi
Sacchi memenangkan Seri A musim 1987-1988. Di 1988-1989, Milan memenangkan gelar Liga Champions ketiganya, mempecundangi Steaua Bucureşti 4-0 di final, dan gelar Piala Interkontinental kedua mengalahkan National de Medellin (1-0, gol tercipta di babak perpanjangan waktu). Tim mulai mengulangi kejayaan mereka di musim-musim berikutnya, mengalahkan S.L. Benfica, dan Olimpia Asunción di 1990. Skuad kemenangan Eropa mereka adalah:
Kiper : Giovanni Galli
Bek : Mauro Tassotti -- Alessandro Costacurta -- Franco Baresi -- Paolo Maldini
Gelandang : Angelo Colombo -- Frank Rijkaard -- Carlo Ancelotti -- Roberto Donadoni
Penyerang : Ruud Gullit -- Marco van Basten
[sunting] Masa keemasan (Era Capello)
Fabio Capello
Saat Sacchi meninggalkan Milan untuk melatih Italia, Fabio Capello dijadikan pelatih Milan selanjutnya, dan Milan meraih masa keemasannya sebagai Gli Invicibli (The Invicibles) dan Dream Team. Dengan 58 pertandingan tanpa satu pun kekalahan Invicibli membuat tim impian di semua sektor seperti Baresi, Costacurta, dan Maldini memimpin pertahanan terbaik, Marcel Desailly, Donadoni, dan Ancelotti di gelandang, dan Dejan Savićević, Zvonimir Boban, dan Daniele Massaro bermain di sektor depan.
[sunting] Masa masa sulit (Tabarez ke Treim)
1996-1997
Setelah kepergian Fabio Capello pada tahun 1996, Milan merekrut Oscar Washington Tabarez tetapi perjuangan keras di bawah kendalinya kurang berhasil dan mereka selalu kalah dalam beberapa pertandingan awal. Dalam upaya untuk mendapatkan kembali kejayaan masa lalu, mereka memanggil kembali Arrigo Sacchi untuk menggantikan Tabarez. Milan mendapatkan tamparan keras kekalahan terburuk mereka di Seri A, dipermalukan oleh Juventus F.C. di rumah mereka sendiri San Siro dengan skor 1-4. Milan membeli sejumlah pemain baru seperti Ibrahim Ba, Christophe Dugarry dan Edgar Davids. Milan berjuang keras dan mengakhiri musim 1996-1997 di peringkat kesebelas di Seri A.
1997-1998
Sacchi digantikan dengan Capello di musim berikutnya. Capello yang menandatangani kontrak baru dengan Milan merekrut banyak pemain potensial seperti Kristen Ziege, Patrick Kluivert, Jesper Blomqvist, dan Leonardo; tetapi hasilnya sama buruk dengan musim sebelumnya. Musim 1997-1998 mereka berakhir di peringkat kesepuluh. Hasil ini tetap tidak bisa diterima para petinggi Milan, dan seperti Sacchi, Capello dipecat.
1998-1999
Dalam pencarian mereka untuk seorang manajer baru, Alberto Zaccheroni menarik perhatian Milan. Zaccheroni adalah manajer Udinese yang telah mengakhiri musim 1997-1998 pada peringkat yang tinggi di tempat ke-3. Milan mengontrak Zaccheroni bersama dengan dua orang pemain dari Udinese, Oliver Bierhoff dan Thomas Helveg. Milan juga menandatangani Roberto Ayala, Luigi Sala dan Andres Guglielminpietro dan dengan formasi kesukaan Zaccheroni 3-4-3, Zaccheroni membawa klub memenangkan scudetto ke-16 kembali ke Milan. Starting XI adalah: Christian Abbiati; Luigi Sala, Alessandro Costacurta, Paolo Maldini; Thomas Helveg, Demetrio Albertini, Massimo Ambrosini, Andres Guglielminpietro; Zvonimir Boban, George Weah, Oliver Bierhoff.
1999-2000
Meskipun sukses di musim sebelumnya, Zaccheroni gagal untuk mentransformasikan Milan seperti The Dream Team dulu. Pada musim berikutnya, meskipun munculnya striker Ukraina Andriy Shevchenko, Milan mengecewakan fans mereka baik dalam Liga Champions UEFA 1999-2000 ataupun Seri A. Milan keluar dari Liga Champions lebih awal, hanya memenangkan satu dari enam pertandingan (tiga seri dan dua kalah) dan mengakhiri musim 1999-2000 di tempat ke-3. Milan tidaklah menjadi sebuah tantangan bagi dua pesaing scudetto kala itu, S.S. Lazio dan Juventus.
2000-2001
Pada musim berikutnya, Milan memenuhi syarat untuk Liga Champions UEFA 2000-2001 setelah mengalahkan Dinamo Zagreb agregat 9-1. Milan memulai Liga Champions dengan semangat tinggi, mengalahkan Beşiktaş JK dari Turki dan raksasa Spanyol FC Barcelona, yang pada waktu itu terdiri dari superstar internasional kelas dunia, Rivaldo dan Patrick Kluivert. Tapi performa Milan mulai menurun secara serius, seri melawan sejumlah tim (yang dipandang sebagai kecil/lemah secara teknis untuk Milan), terutama kalah 2-1 oleh Juventus di Seri A dan 1-0 untuk Leeds United. Dalam Liga Champions putaran kedua, Milan hanya menang sekali dan seri empat kali. Mereka gagal untuk mengalahkan Deportivo de La Coruña dari Spanyol di pertandingan terakhir dan Zaccheroni dipecat. Cesare Maldini, ayah dari kapten tim Paolo, diangkat dan hal segera menjadi lebih baik. Debut kepelatihan resmi Maldini di Milan dimulai dengan menang 6-0 atas A.S. Bari, yang masih memiliki senjata muda, Antonio Cassano. Itu juga di bawah kepemimpinan Maldini bahwa Milan mengalahkan saingan berat sekota Internazionale dengan skor luar biasa 6-0, skor yang tidak pernah diulang dan di mana Serginho membintangi pertandingan. Namun, setelah bentuk puncak ini, Milan mulai kehilangan lagi termasuk kekalahan 1-0 yang mengecewakan untuk Vicenza Calcio, dengan satu-satunya gol dalam pertandingan dicetak oleh seorang Luca Toni. Terlepas dari hasil ini, dewan direksi Milan bersikukuh bahwa Milan mencapai tempat keempat di liga di akhir musim, tapi Maldini gagal dan tim berakhir di tempat keenam.
2001-2002
Milan memulai musim 2000-2001 dengan lebih banyak penandatanganan kontrak pemain bintang termasuk Javi Moreno dan Cosmin Contra yang membawa Deportivo Alavés ke putaran final Piala UEFA. Mereka juga menandatangani Kakha Kaladze (dari Dynamo Kyiv), Rui Costa (dari AC Fiorentina), Filippo Inzaghi (dari Juventus), Martin Laursen (dari Hellas Verona), Jon Dahl Tomasson (dari Feyenoord), Ümit Davala (dari Galatasaray) dan Andrea Pirlo (dari Inter Milan). Fatih Terim diangkat sebagai manajer, menggantikan Cesare Maldini, dan cukup sukses. Namun, setelah lima bulan di klub, Milan tidak berada di lima besar liga dan Terim dipecat karena gagal memenuhi direksi harapan.
[sunting] Kembalinya gelar prestisius (Era Ancelotti)
Terim digantikan oleh Carlo Ancelotti, meskipun rumor bahwa Franco Baresi akan menjadi manajer baru. Terlepas dari masalah cedera pemain belakang Paolo Maldini, Ancelotti berhasil dan mengakhiri musim 2001-02 dalam peringkat empat, tempat terakhir untuk di Liga Champions. Starting XI pada saat itu adalah Christian Abbiati; Cosmin Contra, Alessandro Costacurta, Martin Laursen, Kakha Kaladze, Gennaro Gattuso, Demetrio Albertini, Serginho; Manuel Rui Costa; Andriy Shevchenko, Filippo Inzaghi. Ancelotti membawa Milan meraih gelar juara Liga Champions pada musim 2002/2003 ketika mengalahkan Juventus lewat drama adu pinalti di Manchester, Inggris. Milan terakhir kali meraih gelar prestisus dengan merebut juara Liga Italia pada musim kompetisi 2003/2004 sekaligus menempatkan penyerang Andriy Shevchenko sebagai pencetak gol terbanyak di Liga Italia, maka rossoneripun semakin ditakuti.
[sunting] Pasang surut 2006-2008
Milan saat menghadapi corner musim 2006/2007
Pada musim kompetisi Liga Italia Seri A 2006/2007, Milan terkait dengan skandal calciopoli yang mengakibatkan klub tersebut harus memulai kompetisi dengan pengurangan 8 poin. Meskipun begitu, publik Italia tetap berbangga karena di tengah rusaknya citra sepak bola Italia akibat calciopoli, Milan berhasil menjuarai kompetisi sepak bola yang paling bergengsi di dunia, Liga Champions. Hasil itu didapat setelah Milan menaklukkan Liverpool 2-1 lewat dua gol Filippo Inzaghi. Gelar inipun menuntskan dendam Milan yang kalah adu penalti dengan Liverpool dua tahun silam. Gelar pencetak gol terbanyakpun disabet pemain jenius Milan, Kaká dengan torehan 10 gol. Pada pertengahan musim, Milan mendatangkan mantan pemain terbaik dunia, Ronaldo dari Real Madrid untuk memperkuat armada penyerang mereka setelah penyerang muda Marco Borriello dihukum karena terbukti doping.
Pada musim 2007/2008, Milan akhirnya harus bermain di kompetisi Piala UEFA setelah hanya berhasil menduduki peringkat ke-5 dibawah Fiorentina dengan selisih 2 poin. Dalam pertandingan Serie A yang terakhir, AC Milan menang 4-1 atas Udinese, tapi di saat bersamaan, Fiorentina juga menang atas Torino dengan skor 1-0 yang akhirnya posisi kedua tim tak ada perubahan. Untuk memperbaiki performa di musim berikut (2008/2009), Milan membeli sejumlah pemain baru, di antaranya Mathieu Flamini dari Arsenal, serta Gianluca Zambrotta dan Ronaldinho yang keduanya berasal dari Barcelona. Pada transfer paruh musim 2008/2009, Milan mendatangkan David Beckham dengan status pinjaman dari klub sepakbola Amerika Serikat LA Galaxy.
[sunting] Penunjukkan Leonardo
Oguchi Onyewu
Klaas-Jan Huntelaar
Pada akhir musim 2008/2009,Milan menempati peringkat ke-3 klasemen liga Serie A, dua peringkat di bawah rival sekota, Internazionale yang meraih scudetto dan di bawah Juventus. Untuk memperbaiki hasil yang kurang memuaskan ini, Milan mendatangkan pelatih muda yang sekaligus mantan pemain Milan era 90-an, Leonardo untuk menggantikan pelatih Milan sebelumnya, Ancelotti yang "hijrah ke London", tepatnya klub Chelsea F.C.. Milan juga terpaksa melepas beberapa pemainnya, antara lain:
* Kaka, pindah ke Real Madrid .Nilai transfernya ± 67 juta Euro
* Paolo Maldini, bek legendaris Milan ini memutuskan untuk pensiun
* Yoann Gourcuff, memutuskan untuk tetap di Bordeaux.
Masalah terbesar yang mengganjal transfer para pemain tersebut adalah pihak Milan yang selalu berpikir dua kali untuk mengeluarkan uang demi membeli seorang pemain. Pada bulan Juli dan Agustus 2009, Milan mendapatkan dua pemain baru, yaitu Oguchi Onyewu yang merupakan seorang mantan bek Standard Liège dengan status bebas transfer dan Klaas-Jan Huntelaar eks striker Real Madrid dengan nilai kontrak 14,7 juta Euro dengan durasi kontrak 4 tahun. Namun hasil yang di dapatkan Milan pada turnamen pra-musim banyak menuai kekecewaan, pemain anyar yang diturunkan oleh Milan pada saat tur pra-musim hanya Oguchi Onyewu karena Huntelaar baru bergabung bulan Agustus.
[sunting] 2009 (Era Leonardo)
Musim 2009/2010 diawali Milan dengan hasil yang tidak memuaskan. Awal petaka bermula ketika Milan meraih hasil imbang 2-2 melawan Los Angeles Galaxy, seterusnya, Milan terus menuai hasil negatif. Milan terperosok di ajang World Football Challange 2009 dengan menempati dasar klasemen, di bawah rival sekota, Internazionale, Club América, dan Chelsea. Di ajang Audi Cup, Milan juga kalah oleh Bayern Munich dengan skor 1-4. Bahkan, ketika menghadapi derby 30 Agustus 2009 melawan Internazionale di San Siro, Milan kalah memalukan dengan skor 0-4, sekaligus memecahkan rekor kemenangan terbesar Inter di San Siro.
[sunting] Kebangkitan
Pada pertengahan Oktober 2009, penilaian berbagai pihak tentang kinerja Leonardo sebagai pelatih yang tadinya berada di titik terendah akibat serentetan performa buruk, mulai terdongkrak dengan berhasilnya Leonardo memimpin Milan mengalahkan AS Roma 2-1 di San Siro[4]. Setelah kemenangan itu, Milan juga menuai hasil positif di Stadion Santiago Bernabéu dengan kemenangan dramatis atas Real Madrid 3-2[5]. Dan setelah itu, Milan kembali menuai kemenangan atas Chievo Verona di Stadio Marc'Antonio Bentegodi, kandang Chievo, skor 2-1 untuk kemenangan AC Milan. Pada 1 November 2009, Milan mengalahkan Parma F.C. di San Siro 2-0[6] sekaligus mengantarkan Milan ke peringkat 4 klasemen sementara (Zona masuk Liga Champions terakhir). Pada 19 November 2009, kekalahan 0-2 Juventus F.C. dari Cagliari membuat Milan berada di posisi runner-up di bawah Internazionale; karena, beberapa jam setelah kekalahan Juventus, Milan memenangkan pertandingannya dengan Catania, 2-0[7].
[sunting] Skuad saat ini
JADWAL LENGKAP LIGA CHAMPIONS EROPA 2010
JADWAL PERTANDINGAN
- AC MILAN VS MANCHESTER UNITED (LIVE)
RABU DINI HARI 17 FEBRUARI 02.30 WIB
- BAYERN MUENCHEN VS FIORENTINA (LIVE)
KAMIS DINI HARI 18 FEBRUARI 02.30 WIB
- LYON VS REAL MADRID (DELAY)
KAMIS 18 FEBRUARI 24.00 WIB
- PORTO VS ARSENAL (DELAY)
JUMAT DINI HARI 19 FEBRUARI 02.30 WIB
- AC MILAN VS MANCHESTER UNITED (DELAY)
SABTU DINI HARI 20 FEBRUARI 02.30 WIB
- STUTTGART VS BARCELONA (LIVE)
RABU DINI HARI 24 FEBRUARI 02.30 WIB
- INTER MILAN VS CHELSEA (LIVE)
KAMIS DINI HARI 25 FEBRUARI 02.30 WIB
- CSKA MOSKVA VS SEVILLA (DELAY)
JUMAT DINI HARI 26 FEBRUARI 02.30 WIB
- OLYMPIACOS VS BORDEAUX (DELAY)
SABTU DINI HARI 27 FEBRUARI 02.30 WIB
SUMBER BY : PT RAJAWALI CITRA TELEVISI INDONESIA
TONTON TERUS LIGA CHAMPIONS DAN DUKUNG AC MILAN UNTUK JUARA
© Copyright 2010 RCTI - Rajawali Citra Televisi Indonesia
Segala isi dan elemen dari website ini dilindungi oleh undang-undang.
- AC MILAN VS MANCHESTER UNITED (LIVE)
RABU DINI HARI 17 FEBRUARI 02.30 WIB
- BAYERN MUENCHEN VS FIORENTINA (LIVE)
KAMIS DINI HARI 18 FEBRUARI 02.30 WIB
- LYON VS REAL MADRID (DELAY)
KAMIS 18 FEBRUARI 24.00 WIB
- PORTO VS ARSENAL (DELAY)
JUMAT DINI HARI 19 FEBRUARI 02.30 WIB
- AC MILAN VS MANCHESTER UNITED (DELAY)
SABTU DINI HARI 20 FEBRUARI 02.30 WIB
- STUTTGART VS BARCELONA (LIVE)
RABU DINI HARI 24 FEBRUARI 02.30 WIB
- INTER MILAN VS CHELSEA (LIVE)
KAMIS DINI HARI 25 FEBRUARI 02.30 WIB
- CSKA MOSKVA VS SEVILLA (DELAY)
JUMAT DINI HARI 26 FEBRUARI 02.30 WIB
- OLYMPIACOS VS BORDEAUX (DELAY)
SABTU DINI HARI 27 FEBRUARI 02.30 WIB
SUMBER BY : PT RAJAWALI CITRA TELEVISI INDONESIA
TONTON TERUS LIGA CHAMPIONS DAN DUKUNG AC MILAN UNTUK JUARA
© Copyright 2010 RCTI - Rajawali Citra Televisi Indonesia
Segala isi dan elemen dari website ini dilindungi oleh undang-undang.
Sabtu, 23 Januari 2010
air adalah karunia
Air merupakan karunia Tuhan yang harus dikelola secara bijaksana dengan memperhatikan kepentingan generasi sekarang dan mendatang serta keseimbangan ekologis agar tidak menjadi bencana bagi umat manusia. Ada tiga macam bencana berkaitan dengan air, yaitu kekurangan air, kelebihan air (banjir), dan penyakit bawaan air. Kekurangan atau kelebihan air dapat dikendalikan dengan pengelolaan sumberdaya air sejak hulu (daerah imbuhan air tanah) hingga hilir (pemanfaatan air). Sementara penyakit bawaan air dapat dikendalikan dengan pengelolaan kualitas air yang baik. Pengelolaan sumberdaya air tidak lepas dari budaya yang berkembang di masyarakat.
Judul artikel di atas merupakan tema Hari Air Dunia, 22 Maret 2006, yang telah ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal ini mengingatkan kepada kita semua keterkaitan air dengan budaya. Sepanjang sejarah peradaban manusia tak pernah lepas dari peranan air sebagai sumber kehidupan dan penghidupan. Demikian halnya pengelolaan sumberdaya air, dari waktu ke waktu berkembang seiring dengan tingkat peradaban manusia, yang tercermin dalam nilai budaya setempat.
Pada peringatan Hari Air Dunia tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA), yang meliputi 6 komponen, yaitu:
Penataan ruang, pembangunan fisik, pertanahan dan kependudukan;
Rehabilitasi hutan dan lahan serta konservasi sumber daya air;
Pengendalian daya rusak air;
Pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air;
Penghematan penggunaan dan pengelolaan permintaan air;
Pendayagunaan sumber daya air secara adil, efisien, dan berkelanjutan.
Berkaitan dengan itu, perlu dikembangkan budaya masyarakat Indonesia untuk menjaga kelestarian sumber air. Perilaku yang perlu menjadi budaya di tengah masyarakat adalah kesadaran akan pentingnya penghematan sumberdaya alam, penghematan sumberdaya air, tidak mencemari air, pemanfaatan air hujan, dan peresapan air hujan ke dalam tanah.
Penghematan Sumberdaya Alam
Penghematan adalah upaya mengurangi pemakaian sumberdaya alam yang dirasa kurang penting atau upaya pemanfaatan kembali setiap barang yang masih bisa digunakan. Contoh sederhana adalah dalam pemakaian kertas di kantor. Secara tidak langsung, penghematan pemakaian kertas turut menyumbang kelestarian air. Produk kertas umumnya berasal dari bahan baku berupa kayu. Bila permintaan kayu meningkat, maka tidak mustahil hutan lindung akan menjadi sasaran. Bila hal ini terjadi, maka ancaman tanah longsor dan banjir lumpur ada di depan mata, dan berkurangnya daerah-daerah yang selama ini menjadi imbuhan air tanah. Berkurangnya imbuhan air tanah ini berakibat pada berkurangnya cadangan air di musim kemarau.
Penghematan Sumberdaya Air
Hemat air, hemat biaya. Tentu slogan ini cukup beralasan. Mari kita perhatikan proses tersedianya air di hadapan kita. Banyak sekali biaya dan energi yang terbuang, mulai dari investasi bangunan air (waduk, sungai, dam, dan sebagainya), penggunaan listrik dan pompa, pemakaian bahan kimia, investasi bangunan pengolahan air, investasi jaringan pipa air, dan biaya operasi dan perawatan sistem penyediaan air. Bila setiap orang melakukan langkah penghematan air, akan banyak biaya yang dapat dihemat dan pelayanan air bersih dapat diperluas kepada masyarakat yang selama ini belum menikmati pelayanan air bersih.
Upaya nyata dalam penghematan air misalnya mencuci mobil seperlunya. Kalau kotoran di mobil bisa dibersihkan tanpa dicuci, mengapa harus dicuci. Banyak sekali contoh lain upaya penghematan yang dapat dilakukan masyarakat.Alasan penghematan air tentu bukan sekadar untuk penghematan biaya. Tapi yang lebih penting dari itu adalah penghematan cadangan air di sumber-sumber air. Penghematan sumber air berimplikasi penting bagi kelestarian air sehingga penyediaan air bersih akan tetap sustainable sepanjang waktu. Kampanye hemat air harus terus dilakukan dengan berbagai media. Peran dan prakarsa dapat diambil oleh pemerintah, pengelola sumberdaya air dan instansi suplai air bersih, masyarakat dan LSM. Pendidikan mengenai air dan lingkungan merupakan bagian utama dalam kampanye kepedulian konservasi lingkungan. Tema-tema kampanye perlu dipilih yang menarik dan menyentuh hati masyarakat. Sebagai contoh poster kampanye hemat air di Singapura: “90 liter air bersih mengalir terus menerus untuk mencuci rambut dengan sampo selama 10 menit. Air sebanyak itu cukup untuk mengisi sebuah botol minuman anak yang kehausan selama 25 minggu”.
Perbaikan Kualitas Air
Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan limbah yang secara langsung atau tidak, akan mencemari perairan. Budaya yang mengakar cukup kuat di tengah masyarakat adalah menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan. Air bekas mandi, cuci, sampah, limbah industri semuanya dibuang ke sungai. Memang, sulit sekali mengubah budaya ini. Upaya yang mungkin dilakukan adalah meminimumkan jumlah limbah dan mengolah limbah hingga ke tingkat yang aman dan tidak mencemari perairan. Pengolahan limbah dapat dilakukan oleh industri dan masyarakat dengan dukungan pemerintah. Dalam skala kecilpun (misal rumah tangga), pengolahan limbah dapat dilakukan. Banyak teknologi pengolahan limbah sederhana dan tepat guna yang dapat dipilih.
Kualitas perairan yang baik akan menguntungkan banyak pihak. Instalasi penjernihan air akan lebih mudah dalam mengolah air, masyarakat dapat memanfaatkan air tanpa khawatir terkena penyakit, ikan akan hidup dengan baik, pemerintah dapat mengembangkan wisata air, dan banyak lagi manfaat yang diperoleh.
Pemanfaatan Air Hujan
Air hujan merupakan air gratis dari langit yang tidak banyak dimanfaatkan. Barangkali, ide pemanfaatan air hujan dianggap sesuatu yang aneh di Surabaya. Tapi bila hal ini dilakukan, maka cukup besar manfaat yang akan diperoleh; penghematan sumberdaya air, penghematan pemakaian air PDAM, mengurangi kemungkinan banjir dan sebagainya.
Selama ini, air bersih dari PDAM digunakan untuk minum, mandi, cuci, menggelontor kloset, membersihkan lantai, menyiram tanaman, mengisi kolam dan lain-lain. Untuk sekadar menggelontor kloset, menyiram tanaman, atau mengisi kolam ikan, tidak perlu air dengan kualitas seperti air minum. Di sinilah air hujan dapat menggantikan air PDAM. Setiap rumah, kantor, hotel, industri dapat membuat bak penampung air hujan dan digunakan untuk keperluan di atas. Pada musim kemarau, bila cadangan air hujan telah habis dapat diganti dengan air tanah atau yang lain.
Sebagai gambaran betapa besar penghematan air PDAM bila air hujan digunakan untuk penggelontoran kloset. Penggunaan air di hotel untuk penggelontoran sekitar 30 liter per hari per kamar. Bila jumlah kamar adalah 100 kamar, maka jumlah air yang dapat dihemat adalah 3000 liter per hari atau 90 meter kubik per bulan.
Peresapan Air Hujan
Banjir sering disebabkan oleh daya tampung saluran drainase yang tidak cukup. Memperbesar saluran drainase bukanlah satu-satunya solusi untuk mengatasi maslah banjir ini. Ada cara yang cukup efektif dalam mengatasi masalah ini bila dikerjakan oleh seluruh masyarakat, yaitu setiap rumah wajib membuat sumur resapan untuk meresapkan air hujan yang jatuh di pekarangan rumahnya. Namun upaya ini kurang berjalan baik bila muka air tanah cukup tinggi, seperti di daerah dekat pantai.
Peresapan air hujan ke dalam tanah mampu mengurangi volume limpasan permukaan, sehingga banjir dapat dikurangi. Di sisi lain, upaya ini sangat bermanfaat bagi penambahan cadangan air tanah, sekaligus menghambat intrusi air laut.
Judul artikel di atas merupakan tema Hari Air Dunia, 22 Maret 2006, yang telah ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal ini mengingatkan kepada kita semua keterkaitan air dengan budaya. Sepanjang sejarah peradaban manusia tak pernah lepas dari peranan air sebagai sumber kehidupan dan penghidupan. Demikian halnya pengelolaan sumberdaya air, dari waktu ke waktu berkembang seiring dengan tingkat peradaban manusia, yang tercermin dalam nilai budaya setempat.
Pada peringatan Hari Air Dunia tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA), yang meliputi 6 komponen, yaitu:
Penataan ruang, pembangunan fisik, pertanahan dan kependudukan;
Rehabilitasi hutan dan lahan serta konservasi sumber daya air;
Pengendalian daya rusak air;
Pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air;
Penghematan penggunaan dan pengelolaan permintaan air;
Pendayagunaan sumber daya air secara adil, efisien, dan berkelanjutan.
Berkaitan dengan itu, perlu dikembangkan budaya masyarakat Indonesia untuk menjaga kelestarian sumber air. Perilaku yang perlu menjadi budaya di tengah masyarakat adalah kesadaran akan pentingnya penghematan sumberdaya alam, penghematan sumberdaya air, tidak mencemari air, pemanfaatan air hujan, dan peresapan air hujan ke dalam tanah.
Penghematan Sumberdaya Alam
Penghematan adalah upaya mengurangi pemakaian sumberdaya alam yang dirasa kurang penting atau upaya pemanfaatan kembali setiap barang yang masih bisa digunakan. Contoh sederhana adalah dalam pemakaian kertas di kantor. Secara tidak langsung, penghematan pemakaian kertas turut menyumbang kelestarian air. Produk kertas umumnya berasal dari bahan baku berupa kayu. Bila permintaan kayu meningkat, maka tidak mustahil hutan lindung akan menjadi sasaran. Bila hal ini terjadi, maka ancaman tanah longsor dan banjir lumpur ada di depan mata, dan berkurangnya daerah-daerah yang selama ini menjadi imbuhan air tanah. Berkurangnya imbuhan air tanah ini berakibat pada berkurangnya cadangan air di musim kemarau.
Penghematan Sumberdaya Air
Hemat air, hemat biaya. Tentu slogan ini cukup beralasan. Mari kita perhatikan proses tersedianya air di hadapan kita. Banyak sekali biaya dan energi yang terbuang, mulai dari investasi bangunan air (waduk, sungai, dam, dan sebagainya), penggunaan listrik dan pompa, pemakaian bahan kimia, investasi bangunan pengolahan air, investasi jaringan pipa air, dan biaya operasi dan perawatan sistem penyediaan air. Bila setiap orang melakukan langkah penghematan air, akan banyak biaya yang dapat dihemat dan pelayanan air bersih dapat diperluas kepada masyarakat yang selama ini belum menikmati pelayanan air bersih.
Upaya nyata dalam penghematan air misalnya mencuci mobil seperlunya. Kalau kotoran di mobil bisa dibersihkan tanpa dicuci, mengapa harus dicuci. Banyak sekali contoh lain upaya penghematan yang dapat dilakukan masyarakat.Alasan penghematan air tentu bukan sekadar untuk penghematan biaya. Tapi yang lebih penting dari itu adalah penghematan cadangan air di sumber-sumber air. Penghematan sumber air berimplikasi penting bagi kelestarian air sehingga penyediaan air bersih akan tetap sustainable sepanjang waktu. Kampanye hemat air harus terus dilakukan dengan berbagai media. Peran dan prakarsa dapat diambil oleh pemerintah, pengelola sumberdaya air dan instansi suplai air bersih, masyarakat dan LSM. Pendidikan mengenai air dan lingkungan merupakan bagian utama dalam kampanye kepedulian konservasi lingkungan. Tema-tema kampanye perlu dipilih yang menarik dan menyentuh hati masyarakat. Sebagai contoh poster kampanye hemat air di Singapura: “90 liter air bersih mengalir terus menerus untuk mencuci rambut dengan sampo selama 10 menit. Air sebanyak itu cukup untuk mengisi sebuah botol minuman anak yang kehausan selama 25 minggu”.
Perbaikan Kualitas Air
Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan limbah yang secara langsung atau tidak, akan mencemari perairan. Budaya yang mengakar cukup kuat di tengah masyarakat adalah menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan. Air bekas mandi, cuci, sampah, limbah industri semuanya dibuang ke sungai. Memang, sulit sekali mengubah budaya ini. Upaya yang mungkin dilakukan adalah meminimumkan jumlah limbah dan mengolah limbah hingga ke tingkat yang aman dan tidak mencemari perairan. Pengolahan limbah dapat dilakukan oleh industri dan masyarakat dengan dukungan pemerintah. Dalam skala kecilpun (misal rumah tangga), pengolahan limbah dapat dilakukan. Banyak teknologi pengolahan limbah sederhana dan tepat guna yang dapat dipilih.
Kualitas perairan yang baik akan menguntungkan banyak pihak. Instalasi penjernihan air akan lebih mudah dalam mengolah air, masyarakat dapat memanfaatkan air tanpa khawatir terkena penyakit, ikan akan hidup dengan baik, pemerintah dapat mengembangkan wisata air, dan banyak lagi manfaat yang diperoleh.
Pemanfaatan Air Hujan
Air hujan merupakan air gratis dari langit yang tidak banyak dimanfaatkan. Barangkali, ide pemanfaatan air hujan dianggap sesuatu yang aneh di Surabaya. Tapi bila hal ini dilakukan, maka cukup besar manfaat yang akan diperoleh; penghematan sumberdaya air, penghematan pemakaian air PDAM, mengurangi kemungkinan banjir dan sebagainya.
Selama ini, air bersih dari PDAM digunakan untuk minum, mandi, cuci, menggelontor kloset, membersihkan lantai, menyiram tanaman, mengisi kolam dan lain-lain. Untuk sekadar menggelontor kloset, menyiram tanaman, atau mengisi kolam ikan, tidak perlu air dengan kualitas seperti air minum. Di sinilah air hujan dapat menggantikan air PDAM. Setiap rumah, kantor, hotel, industri dapat membuat bak penampung air hujan dan digunakan untuk keperluan di atas. Pada musim kemarau, bila cadangan air hujan telah habis dapat diganti dengan air tanah atau yang lain.
Sebagai gambaran betapa besar penghematan air PDAM bila air hujan digunakan untuk penggelontoran kloset. Penggunaan air di hotel untuk penggelontoran sekitar 30 liter per hari per kamar. Bila jumlah kamar adalah 100 kamar, maka jumlah air yang dapat dihemat adalah 3000 liter per hari atau 90 meter kubik per bulan.
Peresapan Air Hujan
Banjir sering disebabkan oleh daya tampung saluran drainase yang tidak cukup. Memperbesar saluran drainase bukanlah satu-satunya solusi untuk mengatasi maslah banjir ini. Ada cara yang cukup efektif dalam mengatasi masalah ini bila dikerjakan oleh seluruh masyarakat, yaitu setiap rumah wajib membuat sumur resapan untuk meresapkan air hujan yang jatuh di pekarangan rumahnya. Namun upaya ini kurang berjalan baik bila muka air tanah cukup tinggi, seperti di daerah dekat pantai.
Peresapan air hujan ke dalam tanah mampu mengurangi volume limpasan permukaan, sehingga banjir dapat dikurangi. Di sisi lain, upaya ini sangat bermanfaat bagi penambahan cadangan air tanah, sekaligus menghambat intrusi air laut.
Kemenangan Milan Tergantung Nesta
- Mantan pembesut AC Milan musim lalu, Carlo Ancelotti, yakin kemenangan akan menjadi milik I Rossoneri jika Alesandro Nesta tampil bermain pada laga Derby della Madonnina, Minggu (24/1) nanti.
Jelang laga derby, Milan tidak ada masalah dengan lini depan mereka. Apalagi, penampilan Ronaldinho sedang ganas-ganasnya di barisan depan bersama Boriello.
- Yang menjadi soal, lini pertahanan mereka seringkali rapuh jika ditinggal bek veteran Alesandro Nesta. Jika benar Nesta absen, sepertinya pemain depan Inter akan lebih leluasa untuk menggedor gawang Dida
Pelatih Chelsea Carletto membenarkan keadaan itu. "Milan bisa memenangkan pertandingan jika Nesta sembuh dari cedera yang membebatnya," jelas Ancelotti seperti diwartakan Il Giornale.
"Milan bergantung pada keberadaan Nesta di lapangan. Jika dia tidak tampil, kekuatan tim akan menurun," ungkap Ancelotti.
Meski tidak muda lagi, Nesta masih kokoh di lini belakang Milan dan menjadi salah satu kunci di balik menanjaknya performa I Diavolo Rosso. Saat ini, Nesta menjadi bek yang paling diandalkan Milan untuk menjaga tradisi dan prestasi klubnya sepeninggal Maldini yang lebih dulu pensiun.
Langganan:
Postingan (Atom)
