Minggu, 17 Juli 2011

telaah kurikulum fite

STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP)

Saat ini telah ada Standar Nasional Pendidikan (SNP) melalui PP 19/2005. SNP adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum NKRI.



STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN MELIPUTI :
Standar Isi
Standar proses
Standar kompetensi lulusan
Standar pendidik dan tenaga kependidikan
Standar sarana dan prasarana
Standar pembiayaan
Standar pengelolaan
Standar penilaian

SKL adalah kualifikasi kemampuan lulusan (kompetensi) yang mencakup;
sikap,
Pengetahuan,
keterampilan
sebagaimana ditetapkan pada Kepmendiknas No. 23 Tahun 2006.
Standar Isi disusun berdasarkan SKL sehingga KTSP saat ini juga mengacu pada kurikulum berbasis kompetensi (lihat Gambar 1: Kerangka KBK).

SI adalah lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai SKL pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu se-bagaimana ditetapkan dengan Kepmen-diknas No.23/2006.

Kerangka dasar
Struktur Kurikulum
Beban Belajar
Kalender Pendidikan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
- Cakupan Kelompok Mata Pelajaran - Prinsip Pengembangan Kurikulum - Prinsip Pelaksanaan kurikulum
Struktur Kurikulum terdiri dari:
Mata pelajaran
Muatan Lokal
Pengembangan diri
Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan untuk mengikuti program pembelajar-an oleh peserta didik melalui sistem;
tatap muka,
penugasan terstruktur, dan
kegiatan mandiri tidak terstruktur

Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana yang dimuat dalam Standar Isi.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang di-gunakan sebagai pedoman penye-lenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU 20/2003).
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.

Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan
Struktur dan muatan kurikulum (berisi mata pelajaran, muatan lokal, pengembangan diri, pengaturan beban pelajaran, kriteria ketun-tasan belajar, ketentuan mengenai kenaikan kelas dan kelulusan, pendidikan kecakapan hidup, pendidikan berbasis lokal dan global)
Kalender pendidikan
Lampiran-lampiran (yaitu program tahunan, program semester, silabus, contoh RPP, SK, dan KD mulok, program pengembangan diri, dan perangkat lainnya, misalnya pemetaan KD atau indikator)
Esensi KTSP adalah pengelolaan kurikulum berbasis sekolah. Dengan demikian, sekolah dituntut untuk memiliki kemandirian, kreativitas, inovasi, inisiatif dan prakarsa dalam mengelola KTSP.
KTSP menuntut sekolah memiliki kapasitas/ kemampuan sumberdaya (SDM & selebih-nya) dan kelembagaan yang memadai agar mampu mengelola KTSP;
Untuk itu, sekolah harus melakukan pe-ngembangan kapasitas sumberdaya dan ke-lembagaan dalam pengelolaan KTSP;
Sekolah membentuk Tim Pengembang KTSP;
Sekolah melakukan lokakarya penyu-sunan KTSP;
Sekolah menyusun KTSP secara partisipatif dengan melibatkan berbagai unsur terkait, khususnya guru;
Sekolah merancang pelaksanaan KTSP dan pemantauannya;


Sekolah melakukan koordinasi dalam pengelolaan KTSP;
Sekolah merencanakan evaluasi KTSP;
Sekolah merencanakan penyusunan lapor-an hasil evaluasi KTSP;
Sekolah merencanakan cara-cara merevisi KTSP berdasarkan hasil evaluasi;
Sekolah harus pro-perubahan (kreatif, inovatif, eksperimentatif, initiatif) dalam mengelola KTSP.


Sekolah melakukan analisis standar kompetensi lulusan, standar isi dan KTSP untuk menemukan implikasinya bagi pengembangan bahan ajar, guru, proses belajar mengajar, sarana dan prasarana, pembiayaan, penilaian, pengelolaan kelas, dsb.
Rencana KTSP yang baik harus bersumber pada Standar Isi dan kebutuhan serta kemampuan sekolah. Rencana KTSP harus dinamis, dalam arti, aktif dan pro- aktif mengikuti perubahan konteks misalnya peraturan perundang-undangan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni, dan kebutuhan (peserta didik, keluarga, sektor-sektor serta sub-sub sektornya).
Implementasi KTSP sangat terkait dengan pertanyaan apakah pelaksanaan yang telah digariskan dalam pase rencana KTSP di-gunakan sepenuhnya dan seberapa efektif. Untuk menjawab pertanyaan ini, pengawasan pelaksanaan KTSP yang akan memberikan informasi. Bagian pengawasan pelaksanaan KTSP ini bertugas memantau kesesuaian pelaksanaan dengan spesifikasi dan mengecek-nya apakah sudah sesuai dengan yang ditulis dalam rencana KTSP.
Hasil KTSP sangat ditentukan oleh implementasi dan implementasi juga ditentukan oleh rencana. Jika salah satu atau dua-duanya yaitu rencana KTSP dan implementasi rendah mutunya, maka mutu hasil KTSP akan rendah pula. Untuk itu, penjamin dan pengawas KTSP harus terlibat secara intensif dalam dua wilayah tersebut (rencana dan implementasi KTSP).
KTSP harus memberikan bekal dasar untuk meng-aktualkan potensi spiritual, intelektual, emosional dan pisikal peserta didik;
KTSP memiliki sifat alamiah untuk menjadi tua, layu dan kering, jika tidak dijaga, dipelihara, disiram, dan dikembangkan;
KTSP SSN merupakan pusat keunggulan dan pusat gravitasi dari SMP-SMP di sekitarnya sehingga harus mampu menunjukkan keunggulannya;
KTSP SSN harus pro-perubahan yaitu kreatif dan inovatif berdasarkan hasil eksperimentasi yang dilakukan untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan KTSP baru;
Oleh karena itu, KTSP SSN jangan sampai tertambat pada tradisi dan kelumrahan masa lalu;


Pengembang KTSP SSN harus memperbanyak bentuk-bentuk sinergi positif dengan pihak-pihak lain;
PBM SSN jangan hanya mementingkan jawaban baku yang dianggap benar oleh guru, tetapi harus mengembangkan daya kreasi, inovasi dan eksperimentasi;
Untuk memacu kemajuan KTSP perlu di-tumbuhkan persaingan tetapi perlu diimbangi dengan nilai kolaborasi dengan model-model kegiatan kolektif (tim, gugus tugas, regu kerja, dsb.);

Perlu dikembangkan proses belajar mengajar yang bermatra individual-sosial-kultural agar sikap dan perilaku peserta didik sebagai makhluk individual tidak terlepas dari kaitan-nya dengan kehidupan masyarakat;
Harmonisme proses pendidikan antara nilai-nilai religi (sebagai acuan makna hidup dan penangkal arus materialisme dan pragmatis-me), solidaritas (kesetiakawanan), seni (syahdu, memperhalus dan memperkaya citarasa), ekonomi (materalisme), teori/iptek (untuk keenakan hidup), dan kuasa (politik).

Bangunlah kultur akademik di sekolah sebagai sumber penggalangan konformisme sikap dan perilaku bagi warga sekolah;
Harmonisme lingkungan pendidikan dalam keluarga, sekolah dan masyarakat harus di- jaga dalam menanamkan nilai-nilai tertentu dan jangan sampai ada diskrepansi, apalagi konflik atau bahkan kotradiksi/benturan.
Kepala sekolah dan guru SSN harus tahu persis kebutuhan pelaksanaan KTSP dan menanggapinya dengan hati nurani, menggunakan pikiran sebaik-baiknya dan mengupayakannya dengan sungguh-sungguh, penuh semangat, penuh harapan dan motivasi yang tinggi; dan
Rumuskan tujuan yang akan dicapai secara jelas, cari orang-orang yang memiliki kemampuan dan komitmen, tanamkan investasi pada mereka dan interaksikan serta koordinasikan mereka agar solid untuk mencapai tujuan.
SSN harus menerapkan manajemen mutu terpadu (perbaikan secara terus menerus, pelibatan secara total unsur-unsur sekolah, dan berpusat pada pelanggan/ siswa);
Agar siswa belajar, mereka disuruh mengajar melalui presentasi tugas-tugas di depan para siswa dan guru;
Pelatih/penatar SSN sebaiknya juga diambil dari praktisi yang sukses (guru, kepala sekolah, dsb.) selain dari akademisi.
Keseimbangan tujuan pendidikan antara daya pikir, daya kalbu dan daya pisik;
Keseimbangan antara tujuan pribadi dan sosial
Keseimbangan antara kreativitas dan disiplin;
Keseimbangan antara persaingan & kerjasama;
Keseimbangan antara kemampuan berfikir holistik dan atomistik;
Keseimbangan antara berfikir deduktif dan induktif;
Keseimbangan antara tuntutan dan prakarsa.



Proaktif, tidak sekadar aktif dan reaktif;
Mulailah dengan tujuan akhir dalam pikiran;
Lakukan pertama yang utama (prioritas)
Berpikir menang-menang (saling menghidupi);
Pahamilah orang lain terlebih dahulu, baru minta dipahami;
Bersinergi (kerjasama kreatif) untuk memperoleh nilai tambah;
Tajamkan gergaji anda (lakukan pembaruan secara terus menerus); dan
Bukalah jalan untuk berpikir, bersemangat, dan bertindak yang lebih baik (memerlukan kebiasaan baru). Lihat Stephen Covey, 2006.


IMPLIKASI KBK
Jabarkan standar kompetensi menjadi sub-sub kompetensi/ kompetensi dasar termasuk indikator-indikator setiap kompetensi dasar.
Kembangkan silabus dan materi ajar yang benar-benar mengacu pada standar kompe-tensi dasar, rencanakan pengalaman belajar-nya, alokasi waktunya, dan pilih sumber bahannya.

3. Kembangkan dan laksanakan proses belajar dan mengajar berdasarkan KBK dengan meng-gunakan pendekatan pembelajaran tuntas, belajar dengan mengejakan, pembelajaran mandiri, pembelajaran kontekstual, dan pendekatan lain yang relevan.
4. Rencanakan dan laksanakan evaluasi ber-dasarkan standar kompetensi (evaluasi otentik) termasuk di dalamnya jenis penilaian, jenis instrumen, dan rumusan soalnya.
5. Berikan sertifikat sebagai pengakuan terhadap kompetensi yang telah dicapai oleh peserta didik.


1918 : Bobbit , The Curriculum
Kurikulum adalah serangkaian kegiatan yang harus dilakukan atau dialami oleh anak-anak didik atau anak muda dengan maksud me-ngembangkan kemampuan mengerjakan sesuatu yang termasuk dalam kehidupan orang dewasa dengan sebaik-baiknya dan agar memiliki sifat yang seharusnya dimiliki oleh seorang dewasa dalam segala aspeknya.

1935 : Caswell dan Campbell, Curriculum Development
Kurikulum adalah semua pengalaman yang dialami anak-anak di bawah bimbingan para guru.

1957 : Krug, Curriculum Planning
Kurikulum adalah serangkaian strategi pengajaran yang diperguna-kan disekolah untuk menyediakan kesempatan terwujudnya penga-laman belajar bagi anak didik untuk mencapai hasil yang diinginkan.

1962 : Taba, Curriculum Development : Theory and Practice
Suatu curikulum adalah rencana untuk belajar

1966 : Saylor & Alexander, Curriculum Planning for Modern Schools
Kurikulum mencakup semua kesempatan belajar yang disediakan oleh sekolah

1967 : Johnson, Definitions and Models in Curriculum Theory
Kurikulum adalah serangkaian hasil belajar yang terencana da terstruktur. Kurikulum menentukan atau setidak-tidaknya mengharapkan hasil pelajaran. Kurikulum tidak menetukan cara yang harus dipakai untuk mencapai hasil itu.

1968 : Harnack, The Teacher : Decision Maker and Curriculum Planner
Kurikulum menyangkut semua pengalaman belajar – mengajar yang dibimbing dan diarahkan oleh sekolah

1977 : Oliver , Currculum Improvement (2nd Edition)
Kurikulum adalah program pendidikan di sekolah dengan focus pada (1) elemen program studi, (2) elemen pengalaman, (3) elemen pelayanan, dan (4) elemen kurikulum tersembunyi.

1978 : Doll , Curriculum Improvement : Decision Making & Processes
Kurikulum adalah isi dan proses formal dan informal dengan mana anak didik memperoleh pengetahuan dan pengalaman, mengembangakan ketrampilan, mengubah sikap, apresiasi dan nilai-nilai dibawah tanggung jawab sekolah.


1979 : Finch & Crunkilton, Curiculum Development in Vocational and Technical Education
Kurikulum adalah sejumlah kegiatan dan pengalaman belajar yang di- alami oleh anak didik di bawah pengarahan dan tanggung jawab sekolah.

1980 : Hass, Curriculum Planing : A New Approach (3nd Edition)
Kurikulum adalah semua pengalaman yang dialami pribadi-pribadi anak didik dalam suatu program pendidikan yang bermaksud untuk mencapai tujuan-tujuan umum dan tujuan-tujuan khusus yang relevan, yang di- rencanakan berdasarkan kerangka teoritik dan riset atau praktek-praktek professional masa lalu dan masa sekarang.

1982 : Olivia , Developing the Curriculum
Kurikulum adalah rencana atau program yang menyangkut semua pengalaman yang dihayati anak didik di bawah pengarahan sekolah.

1986 : Beane, at. Al., Curriculum Planning and Development
Batasan tentang kurikulum dapat diklasifikasikan menjadi 4 kategori, yaitu :
(1) kurikulum sebagai produk,
(2) kurikulum sebagai program,
(3) kurikulum sebagai belajar yang direncanakan dan
(4) kurikulum sebagai pengalaman anak didik.

Sukamto, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Tahun 1988
Prinsip-prinsip dasar proses perencanaan dan pengembangan kurikulum yang terpenting antara lain: 1. Perencanaan kurikulum pada hakekatnya adalah suatu upaya untuk membentuk anak
didik, atau dengan kata lain fokus dari upaya perencanaan kurikulum adalah siswa dan
pengalaman belajar yang akan diperolehnya.

2. Dalam proses perencanaan kurikulum melibatkan banyak pihak, dan dilakukan dalam
berbagai tingkat atau hirarki vertikal, sesuai dengan jenis dan kuantitas informasi yang
terlibat didalamnya.

3. Karena luasnya dimensi kurikulum sekolah, perencanaan kurikulum harus mengkaji
banyak aspek dan persoalan, disamping yang terutama tentang isi dan proses belajar
mengajar.

4. Dengan banyaknya tahapan dan dinamika pendidikan dalam masyarakat yang harus
dipertimbangkan dalam proses perencanaan, maka perencanaan dan pengembangan
kurikulum harus dipandang sebagai suatu proses ang berkesinambungan dan berjalan
terus menerus tanpa mengenal ujung pembehentian, dan bukan sebagai usaha yang
selesai dalam sekali tindakan.
(Sukamto, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum PTK, 1988)
Perencanaan mulai dari tingkat makro (nasional) sampai ketingkat mikro (interaksi guru & murid dikelas)

Informasi dikumpulkan menyangkut aspek demografis, aspek sosiologis dan aspek ekonomis.

Untuk menyusun urutan dan struktur kurikulum diperlukan bantuan para ahli psikologi belajar, para pakar bidang studi yang mumpuni dan para ahli pendidikan.

Dalam fase evaluasi; tidak ketinggalan dilibatkan pihak masya-rakat luas disamping kelompok spesifik seperti pemakai lulusan, para lulusan itu sendiri, dan para pelaksana seperti guru dan administrator.
Perencanaan mulai dari tingkat makro (nasional) sampai ketingkat mikro (interaksi guru & murid dikelas)

Informasi dikumpulkan menyangkut aspek demografis, aspek sosiologis dan aspek ekonomis.

Untuk menyusun urutan dan struktur kurikulum diperlukan bantuan para ahli psikologi belajar, para pakar bidang studi yang mumpuni dan para ahli pendidikan.

Dalam fase evaluasi; tidak ketinggalan dilibatkan pihak masya-rakat luas disamping kelompok spesifik seperti pemakai lulusan, para lulusan itu sendiri, dan para pelaksana seperti guru dan administrator.
Ada tiga ( 3 ) komponen pokok yang saling terkait dalam perencanaan kurikulum :

1. Komponen landasan
(filosofi, sosiologi dan psikologi)
2. Komponen konteks
(falsafah negara, struktur sosial ekonomi, politik dan budaya)
3. Komponen penyaring
(sarana/prasarana, prinsip-prinsip belajar, dan karakteristik
anak didik)
Tujuan hidup manusia
Hal apa yang harus diajarkan kepada generasi muda agar dapat membimbing mereka ke kehidupan yang baik.
Seberapa jauh peranan dan tanggung jawab sekolah
Relevansi pendidikan umum dan kejuruan terhadap kebutuhan dan struktur masyarakat
Peranan teknologi dan struktur kurikulum keluarga terhadap praktek pendidikan disekolah
Pemenuhan kebutuhan dasar manusia lewat jalur pendidikan
Relevansi struktur kurikulum dengan tahap-tahap perkembangan kedewasaan anak didik
Dsb.
Melalui kajian filosofis, kajian sosiologis dan kajian psi-kologis sangat bermanfaat untuk mencegah agar program pendidikan yang lahir tidak mudah goyah dan berubah-ubah karena rapuhnya fondasi yang mendasarinya.
Selain komponen yang termasuk kelompok yang pertama yang sifatnya relatif universal, perencanaan kurikulum dalam dunia pendidikan haruslah juga memperhatikan faktor-faktor yang sifatnya kontekstual yang menyangkut suatu lingkungan atau setting tertentu.
Pendekatan Filosofis
Pendekatan Introspektif
Pendekatan DACUM
Pendekatan Fungsional
Analisis Tugas (Task Analysis)
1. Pendekatan Filosofis
Pendekatan yang didasarkan pada pemikiran seseorang atau sekelompok orang yaang dipandang mengerti tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik tentang seluk beluk pendidikan yang akan direncanakan.

Pendekatan instrospektif adalah penentuan isi kurikulum didasar-kan pada pemikiran dan perasaan dari mereka yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan pendidikan, seperti para guru dan administrator yang sehari-hari bekerja dilingkungan sekolah.

Mereka secara individual maupun kelompok merenungkan apa yang sebaiknya yang dianggap baik masuk dalam isi kurikulum sekolah, dengan mempertimbangkan pengalaman dan informasi yang langsung dapat diolah sesuai dengan konteks dimana mereka bekerja.
Dalam penentuan isi kurikulum ini dapat pula dengan melakukan studi banding ditempat lain, baik dengan cara datang langsung atau hanya dengan membaca literatur seperti katalog sekolah, buku laporan tahunan atau sumber infor-masi lain sebelum meng-ambil keputusan tentang isi kurikulum yang akan dibuat.
Pendekatan yang didasarkan pada pemikiran-pemikiran para ahli, pengusaha, para pekerja dan lain-lain dimana pihak sekolah justru tidak dilibatkan.
Keunikan dari pendekatan Dacum ini adalah urutan dan intensitas partisipasi peserta ditargetkan sedemikian rupa, sehingga yang di-hasilkan selama proses tidak terbatas hanya pada inventarisasi skill saja atau penge-tahuan yang spesifik yang menjadi kerangka kurikulum, namun sampai pada tingkat kemahiran atau kompetensi sesuai dengan apa yang diperlukan dalam situasi kerja yang nyata.

Pada pendekatan fungsional yaitu penetuan isi kuri-kulumnya lebih bersifat obyektif, dimana anak didik yang belajar harus mempelajari fungsi-fungsi apa yang se-harusnya ada untuk menjamin kelangsungan kerja suatu industri atau dunia usaha tertentu, yang kemudian di-jabarkan menjadi penampilan-penampilan (performance) yang terkait dengan fungsi atau tugas tertentu untuk di-jadikan masukan bagi perencanaan kurikulum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar